Breaking News:

Citizen Journalism

Ada yang Tak Kalah Berbahaya dari Rasisme, Yaitu Tubuh Sosial

Namun, banyak pihak tak menyadari jika sesungguhnya fenomena “tubuh sosial” tak kalah berbahaya dibanding rasisme.

istimewa/dok.pribadi
Wahyu Budi Nugroho (Sosiolog Universitas Udayana) 

Secara konkret, kita bisa memisalkan tubuh sosial lewat tampan/cantik atau ideal-tidaknya tubuh seseorang, juga menarik-tidaknya tampilan seseorang. Hal-hal sepele semacam ini, nyatanya memunculkan implikasi sosial yang tak sepele.

Dewasa ini, budaya pop-lah yang menjadi biang utama akan konstruksi tubuh sosial. Budaya pop, baik itu berupa film, musik, iklan-iklan, sastra, atau yang lainnya; selalu menampilkan mereka yang memiliki keparasan tampang dan tubuh ideal sebagai lakon utamanya.

Hal ini lambat-laun memunculkan definisi akan cantik, tampan, atau menarik yang seakan sarat sedemikian rupa.

Industri kosmetik pun mengambil peluang ini, kemudian berbagai perhelatan untuk merayakan ketubuhan yang indah juga digelar secara berkala guna meneguhkan kesan-kesan itu.

Alhasil, tak sedikit dari mereka, baik orang biasa maupun selebritis yang frustasi bahkan hingga mengakhiri hidupnya karena menuai perundungan penggemarnya, yakni ketika kecantikan atau ketampanan, berikut tubuh mereka tak lagi memenuhi harapan para penggemarnya.

Tak sedikit pula rumah tangga yang hancur akibat tampilan pasangan yang dianggap tak lagi sesuai dengan standar tubuh sosial.

5 Manfaat Luar Biasa Air Mawar Untuk Kecantikan, Yuk Buat Sendiri di Rumah!

Tetap Kece Meski di Rumah Aja, Begini Tips Merapikan Alis Sesuai Bentuk Wajah

Pelatih Bali United Teco: Liga 1 Indonesia Bisa Contoh Protokol Kesehatan yang DIterapkan Bundesliga

Pun, sudah tak terhitung juga banyaknya pecinta yang patah hati karena ditolak cintanya, akibat tak mampu memenuhi harapan tubuh sosial orang yang dicintainya.

Hal-hal semacam ini menjadi fenomena gunung es tersendiri, dan seringkali kita gagal melihatnya sebagai latar lahirnya serangkaian tragedi sosial yang muncul di permukaan; perundungan, kekerasan, hingga hilangnya nyawa.

Lebih jauh, tubuh sosial pun turut menjadi biang ketidakadilan secara luas, dan ini terjadi secara terang-terangan.

Misalnya, bagaimana hampir di setiap lowongan pekerjaan saat ini selalu menyertakan syarat “berpenampilan menarik” bagi para pelamarnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved