Corona di Bali
Dampak Pandemi Covid-19, Lapangan Usaha Akmamin Minus 9,11 Persen
Sektor pariwisata selama ini, memberikan kontribusi terbesar dalam perekonomian Bali. Pada tahun 2019
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Sektor pariwisata selama ini, memberikan kontribusi terbesar dalam perekonomian Bali. Pada tahun 2019, total devisa dari pariwisata Bali mencapai USD 9,346 juta atau setara 53,65 persen PDRB Bali dan 55,26 persen devisa travel nasional.
“Dengan adanya pembatasan aktivitas sosial, melalui penutupan bandara dan pelabuhan. Memberikan dampak sangat signifikan, terhadap pertumbuhan sektor pariwisata di Provinsi Bali yang menurun 42,26 persen (yoy) periode Januari – April 2020 dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya,” jelas Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, Kamis (4/6/2020).
Bahkan berdasarkan data PDRB Provinsi Bali, triwulan I-2020 lapangan usaha akomodasi, makan, dan minum minus hingga 9,11 persen. Jauh lebih besar, dibandingkan lapangan usaha transportasi, industri, perdagangan, jasa pendidikan, dan jasa yang lainnya. Sehingga menyebabkan pertumbuhan PDRB Bali turun pada triwulan I-2020 dengan angka minus 1,14 persen.
Penurunan kinerja sektor pariwisata Bali, di masa Covid-19 tersebut tidak dapat dibiarkan terus berlangsung lama. “Sektor pariwisata harus mampu bangkit, dengan cara beradaptasi terhadap tatanan hidup baru (new normal) di tengah Covid-19. Termasuk dalam aspek sistem pembayaran yang meminimalkan kontak fisik dalam bertransaksi,” katanya.
Digitalisasi transaksi yang bersifat contactless, menjadi sebuah keharusan dan menjadi unsur penting dalam mendukung industri pariwisata di tata kehidupan baru. “Implementasi digitalisasi transaksi, dimaksud tidak hanya terbatas pada Industri pariwisata seperti obyek wisata, hotel dan restauran, tetapi juga industri pendukungnya, seperti transportasi, pusat perbelanjaan hingga rumah sakit,” sebut Trisno.
Bank Indonesia, sebagai otoritas sistem pembayaran merespon perkembangan yang terjadi. Bank Indonesia berupaya menjadikan sistem pembayaran efisien dan efektif, bagi saluran aktivitas ekonomi dengan mengacu pada dimensi prinsip utama kebijakan sistem pembayaran yaitu cepat, mudah, murah, aman dan andal. Dengan titik berat pada aspek higienitas dalam bertransaksi.
“Adapun transaksi non tunai berbasis digital selain lebih aman, cepat, dan mudah juga diharapkan mampu mendukung kesiapan pariwisata di era new normal dengan menerapkan prinsip Cleanliness, Health, dan Safety,” jelasnya. (ask)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/trisno-nugroho-kepala-perwakilan-bank-indonesia-provinsi-bali.jpg)