Breaking News:

Mantan Direksi BPR Legian Bersaksi Ungkap Permintaan Transfer dari Titian Wilaras

Mantan Direksi BPR Legian Bersaksi Ungkap Permintaan Transfer dari Titian Wilaras

Dok
Bos PT BPR Legian yang juga pemilik tempat hiburan malam Sky Garden, Titian Wilaras ditangkap Kejari Denpasar karena dugaan korupsi atau telah melanggar tindakan pidana Perbankan. 

TRIBUN-BALI.COM- Sidang perkara perbankan dengan terdakwa Pemegang Saham Pengendali (PSP) Bank BPR Legian, Titian Wilaras kembali bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Kamis (4/6) sore. Titian berstatus tahanan kota ini menjadi pesakitan, karena diduga menggunakan dana milik PT. BPR Legian untuk kepentingan pribadi terdakwa, dengan transaksi sekitar Rp 23,1 miliar. Pada sidang kali ini mengagendakan pemeriksaan keterangan para saksi, mereka adalah mantan jajaran direksi BPR Legian.

Keempat mantan direksi BPR Legian yang dihadirkan untuk bersaksi oleh Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU), yakni Direktur Utama BPR Legian Indra Wijaya, Direktur Kepatuhan Ni Putu Dewi Wirastini, Gede Made Karyawan sebagai Kepala Bisnis dan Andre Mulia selaku HRD. Keempatnya pun diperiksa keterangannya secara bersamaan. Di persidangan dengan majelis hakim pimpinan Angeliky Handajani Day, terungkap dari keterangan para saksi, mengenai permintaan transfer sejumlah uang oleh terdakwa.

Saksi Made Karyawan dalam keterangannya menyebutkan, sekitar bulan Agustus - Oktober 2018 dirinya menerima perintah dari terdakwa Titian untuk mentransfer uang ke sejumlah rekening. Perintah mentransfer uang itu, kata saksi Made Karyawan, ia terima melalui pesan WhatsApp (WA) yang dikirim oleh terdakwa.

"Ada perintah permintaan uang dari Bapak Titian lewat WA. Perintah itu kemudian saya share ke direksi," terangnya. Setelah dilakukan rapat direksi, kemudian dilakukan transfer sejumlah dana atas permintaan terdakwa. Dimana dana itu bersumber dari pos Biaya Dibayar Dimuka (BDD) yang merupakan dana cadangan atau dana darurat bank.

Pengakuan perintah pengeluaran dana yang bersumber dari BDD itu juga dibenarkan saksi Dewi. Pula, dikatakan Dewi terdakwa awalnya memiliki tabungan pribadi sebagai nasabah. "Awalnya terdakwa meminta dana tabungan pribadi dikirim. Namun, karena rekening pribadi tidak cukup akhirnya mengambil DBD," ungkapnya.

Sementara saksi Indra mengaku tidak pernah mendapat WA terkait permintaan transfer dana dari terdakwa. Indra mengatakan, baru mengetahui adanya perintah pengeluaran uang berupa lisan. Sementara saksi Andre mengaku mendapat perintah mengambil mobil merek Porche di Jakarta. Andre juga mengetahui pembelian mobil Alphard dan Mercy oleh terdakwa.

Lebih lanjut dikatakan Indra, terdakwa juga memaksa menyewa apartemen di Jakarta. Akhirnya direksi sempat mengingatkan terdakwa, mengingat kondisi keuangan perusahaan belum stabil. Namun, terdakwa tetap ngotot. Namun uang akhirnya dikembalikan setelah ada temuan dan pemberkasan dari Otoritas Jasa Keuangan.

Dari keterangan para saksi itu, Hakim Angeliky mempertanyakan prihal uang yang dikeluarkan memakai BDD. "Kok bisa kalian sampai mengeluarkan DBD. Padahal secara aturan salah, tapi kenapa harus dikeluarkan uang itu," kejar hakim Angeliky. "Berani memberikan DBD karena akan ada pengembalian secara dicicil," jawab saksi Made Karyawan.

Menurut Made Karyawan, jumlah kerugian hingga Rp 22 miliar lebih karena terdakwa telat membayar. "Awalnya terdakwa mengembalikan sedikit-sedikit, tapi karena kesulitan uang akhirnya membengkak hingga Rp 22 miliar," bebernya.

Sementara itu, terdakwa Titian yang didampingi tim penasihat hukumnya membantah keterangan para saksi terkait dana yang bersumber dari BDD. "Saya tidak pernah tahu apa itu BDD. Saya juga tidak tahu kegunaan BDD. Saya juga tidak pernah memerintahkan transfer uang dari BDD,"

Terdakwa juga menyatakan, sudah bertemu dengan OJK di Jakarta untuk mengembalikan BDD senilai Rp 24 - 25 miliar, disertai bukti penyerahan. Terdakwa Titian juga membeberkan telah membeli uang puluhan miliar di BPR Legian. "Uang pertama kali yang saya setor 20 miliar, lalu nilai bangunan 40 miliar di Jalan Gajah Mada, dan di Tabanan Rp 7 miliar. Total uang saya masukkan Rp 92 miliar," ungkapnya. CAN

Penulis: Putu Candra
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved