6 Warisan Budaya di Denpasar Ini Diusulkan untuk Ditetapkan Sebagai WBTB Tahun 2020
Mataram mengatakan Gambuh Pedungan merupakan tarian sakral yang diwarisi secara turun temurun dari para leluhur warga dan berkembang mulai tahun 1836
Penulis: Putu Supartika | Editor: Wema Satya Dinata
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Tahun 2020 ini, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar mengusulkan 6 warisan budaya untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Keenam warisan budaya ini yakni Gambuh Pedungan, Bumbang dari Sesetan, Bulung Buni dari Serangan untuk makanan, Baris Tengklong dari Desa Adat Pemedilan, Genggong dari Sesetan, dan ritus Nanda.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, IGN Bagus Mataram saat dikonfirmasi, Kamis (25/6/2020) siang.
Mataram mengatakan Gambuh Pedungan merupakan tarian sakral yang diwarisi secara turun temurun dari para leluhur warga dan berkembang mulai tahun 1836.
• Kisah Perjuangan Hidup Delisa Pemeran Mira di Sinetron Preman Pensiun, Kerja Keras Demi Tebus Ijazah
• Kapal Tempur AS Lakukan Latihan Bersama dengan 2 Kapal Perang Jepang di Laut China Selatan
• Memilukan, Mayat Pasien Covid-19 Dimasukkan ke Kantong Sampah di Rumah Sakit di Brasil
Sampai saat ini belum ditemukan bukti tertulis, apa nama tarian tersebut sebelum dinamakannya tari Gambuh.
“Kesan ritualisme tarian gambuh tercermin karena tarian ini manifestasi dari titah Ida Betara di Puseh Pedungan. Karenanya tarian gambuh ini lebih populer dengan sebutan gambuh duwe,” katanya.
Ia mengatakan saat terjadinya Perang Puputan Badung, Gambuh di Pedungan sempat punah dan tidak terwadah dalam sekaa.
Akan tetapi setelah peristiwa tersebut sekaa gambuh ini kembali bermunculan.
Sementara Bumbang merupakan gamelan bambu yang diklasifikasikan dalam seni karawitan Bali sebagai gamelan anyar.
Gamelan ini dicoptakan tahun 1985 oleh seorang tokoh seni Karawitan Bali, I Nyoman Rembang dan dipentaskan pertama kali pada tanggal 16 November 1988 pada saat pawai pembukaan lomba desa di Desa Sesetan.
Gambelan ini terinspirasi dari suara gelembung air pada ikan-ikan kecil yang berenang di akuarium.
Sementara bulung buni merupakan kuliner dari Desa Serangan yang terbuat dari rumput laut.
Dan satu-satunya ada di Serangan di Indonesia.
Baris Tengklong dibawakan oleh sekelompok penari dengan senjata pedang, gerakannya dinamis, perkasa dan mendekati gerakan pencak silat.
• Tingkatkan Pengawasan Orang Asing, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Denpasar Gelar Rapat TIM Pora Badung
• Kenali Gejala Penyakit Tekanan Darah Tinggi, Faktor Risiko dan Cara Pencegahannya
• PDI-Perjuangan Tempuh Jalur Hukum Setelah Bendera Partainya Dibakar
Tarian ini biasanya ditampilkan dalam upacara di Pura Penambangan Badung.
Sementara genggong adalah alat musik yang terbuat dari bambu dengan ukuran panjang 18-20 cm dan lebar 1,5-2 cm memiliki bunyi yang khas dan unik.
Cara memainkannya dengan menempelkan genggong pada bibir, sambil menggetarkan melalui tarikan tali (tekhnik ngedet) serta menggunakan metode resonansi tenggorokan untuk menghasilkan nada.
Genggong ini berasal dan berkembang di Banjar Pegok, Sesetan.
Dan Nanda merupakan ritus yang digunakan oleh desa adat yang ada di Denpasar untuk mendak Ida Betara.
Sarananya yakni tombak, pasepan, keris dan kober.
"Karena Covid-19 kirim ke Jakarta saja dulu. Daftarnya Februari 2020 kemarin. Nanti ada pemaparan virtual. Juga masih menunggu kabupaten dan provinsi lain mengajukan jadinya kami nunggu. Apalagi Covid-19," katanya.
Tahun 2019 lalu, empat warisan budaya tak benda (WBTB) Kota Denpasar juga telah ditetapkan sebagai WBTB Indonesia tahun 2019.
Keempat warisan budaya ini yakni Tradisi Ngaro Banjar Medura Intaran Sanur (adat istiadat dan ritus), Sate Renteng (kemahiran, adat istiadat dan ritus), Legong Binoh (seni pertunjukan), dan Janger Kedaton sumerta dan Pegok Sesetan (seni pertunjukan).
Sementara tahun 2018 yang ditetapkan menjadi WBTB yakni tari baris wayang lumintang, tari baris cina renon dan sanur,
Basmerah (nyambleh Sasih Kanem) Desa Adat Taman Pohmanis, dan Ngerebong dari Kesiman. (*)