Geliat Tenun Tradisional di Pejeng Kangin, Hidup Lagi Setelah 25 Tahun Mati Suri

Semenjak harga bahan baku mahal dan juga banyak yang mencari pekerjaan keluar, kerajian tenun mulai ditinggalkan dan saat ini mulai dibangkitkan

tribun bali
Warga Banjar Salakan, Desa Pejeng Kangin, Kecamatan Tampaksiring saat membuat tenun tradisional, Jumat (26/6/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Warga Banjar Salakan, Desa Pejeng Kangin, Kecamatan Tampaksiring kembali memulai usaha tenun tradisional. Usaha yang mati suri sejak 25 tahun ini bangkit lagi setelah banyak warga yang dirumahkan dampak dari pandemi Covid-19.

Berawal dari Ratna Wati (40) yang bekerja di sebuah vila di Pejeng. Pandemi membuatnya kesulitan ekonomi. Ratna kemudian dapat saran dari David Metcalf seorang warga Selandia Baru.

David menanyakan soal kerajianan apa yang pernah ada di Banjar Salakan. Ratna kemudian menemukan jawaban dan kembali reuni dengan aktivitas tenun yang sudah lama ia tinggalkan.

"Dulu menenun merupakan pekerjaan sehari-hari waga di sini semenjak harga bahan baku mahal dan juga banyak yang mencari pekerjaan keluar, kerajian tenun mulai ditinggalkan dan saat ini mulai dibangkitkan," ujarnya, Jumat (26/6/2020).

Begitu juga dengan Wayan Suwarni (38). Ia yang sudah bekerja selama enam tahun di sebuah hotel di kawasan Seminyak ini dirumahkan karena dampak krisis Covid-19.

Kini ia napak tilas dengan keterampilannya menenun yang sempat ia lakukan pada saat masih duduk sekolah menengah pertama.

"Sudah lama saya harus mengingat-gingat lagi karena membuat tenun ini ada tahapannya mulai dari ngulak, nganyinin, nusuk, nyasah nuduk, nguwun" jelas dia.

Sedangkan Dadong Wayan Celemik (65) juga kembali menenun. Meski umurnya paling tua di kelompoknya itu, namun ia terlihat sangat mahir. Dadong Celemik mengaku sudah menenun sejak umur 18 tahun.

"Saya sehari-hari bekerja di sawah, sekarang sudah mulai menenun lagi, biar ada tambahan pengasilan" ucapnya.

Kelian Dinas Salakan mengisahkan, tahun 80an banyak warganya menjadi pengerajin tenun. Bahkan di era Orde Baru, Mbak Tutut yang tak lain adalah anak sulung dari Presiden Soeharto dan Tien Soeharto sempat mengunjungi desanya.

Kerajinan yang terkenal saat itu adalah tenun saput songket. Dari kerajinan tersebut warga bisa menyekolahkan anak-anaknya. Astawa mengatakan dalam sebulan kelompok ini sudah menghasilkan lima juta per bulan berbagai motif tenun dibuat seperti kamen, destar, saput

"Saya berharap nantinya pengerajin ini bisa berinovasi lagi mengembangkan motif-motif baru" ucapnya. Karya tenun pengerajin lokal ini sudah laku dijual dari Ubud sampai ke luar negeri. Mereka dibantu pemasarannya oleh David. 

Penulis: I Nyoman Mahayasa
Editor: I Putu Darmendra
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved