Berjaya 25 Tahun Silam, Desa Kutuh Bangli Kembali Budidayakan Tanaman Vanili
Sempat berjaya pada 25 tahun silam, masyarakat Desa Kutuh Bangli kini kembali membudiayakan tanaman vanili
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Irma Budiarti
TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Sempat berjaya pada 25 tahun silam, masyarakat Desa Kutuh, Kintamani, Bangli, Bali, kini kembali membudiayakan tanaman vanili.
Budidaya bahkan dikembangkan dengan teknik baru yakni menggunakan media pot.
Perbekel Desa Kutuh, I Wayan Pasek membenarkan tanaman vanili sempat berjaya pada tahun 1990-an.
Banyak masyarakat yang membudidayakan tanaman tersebut lantaran harga jual yang menjanjikan.
“Pada tahun itu harga jualnya saja bisa mencapai Rp 75 ribu hingga Rp 150 ribu per kilogram vanili kering,” ujarnya saat dihubungi Tribun Bali, Jumat (3/7/2020).
Namun masa kejayaan tanaman vanili tak berlangsung lama.
Sekitar tahun 1995, serangan penyakit busuk batang belum bisa dikendalikan oleh petani lokal, sehingga banyak tanaman vanili yang mati.
Disamping juga serangan hama kutu loncat dari tanaman yang digunakan sebagai media rambat.
“Tak hanya itu, wilayah kami pada tahun tersebut kekurangan air. Sedangkan vanili ini jenis tanaman yang menyerupai anggrek, sehingga butuh disiram. Karenanya banyak tanaman vanili yang mati. Disamping itu juga pengaruh harga vanili yang anjlok, sehingga petani mulai beralih ke tanaman lain seperti kopi dan cengkih,” ungkapnya.
Seiring berjalannya waktu, wilayah Desa Kutuh telah teraliri air bersih.
Pihaknya pun berinisiatif kembali membudiadayakan tanaman vanili setelah sempat vakum selama 25 tahun.
Percobaan budidaya telah dimulai sejak dua tahun silam, dan pihaknya bersama petani sekitar telah bisa mengendalikan busuk batang.
“Ternyata busuk batang itu karena tanaman tidak boleh terlalu lembab, serta pemeliharan harus lebih intensif. Selain itu karena air sudah lancar, saat musim panas kebutuhan air bagi tanaman masih tetap terpenuhi. Dari percobaan tersebut sekarang sudah ada beberapa tanaman yang mulai berbuah,” katanya.
Tak hanya upaya mengantisipasi busuk batang, percobaan juga dilakukan dengan penanaman menggunakan media lain, yakni dengan menggunakan pot.
Sedangkan sebagai media rambat, pihaknya tidak menggunakan tanaman hidup melainkan menggunakan serabut kelapa yang dibentuk dengan kawat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/dinas-pkp-ketika-memantau-budidaya-vanili-dengan-cara-modern-di-desa-kutuh.jpg)