Breaking News:

Berjaya 25 Tahun Silam, Desa Kutuh Bangli Kembali Budidayakan Tanaman Vanili

Sempat berjaya pada 25 tahun silam, masyarakat Desa Kutuh Bangli kini kembali membudiayakan tanaman vanili

Dok Bangli
Dinas PKP ketika memantau budidaya vanili dengan cara modern di Desa Kutuh, Kitamani, Bangli, Bali, Kamis (2/7/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Sempat berjaya pada 25 tahun silam, masyarakat Desa Kutuh, Kintamani, Bangli, Bali, kini kembali membudiayakan tanaman vanili.

Budidaya bahkan dikembangkan dengan teknik baru yakni menggunakan media pot.

Perbekel Desa Kutuh, I Wayan Pasek membenarkan tanaman vanili sempat berjaya pada tahun 1990-an.

Banyak masyarakat yang membudidayakan tanaman tersebut lantaran harga jual yang menjanjikan.

“Pada tahun itu harga jualnya saja bisa mencapai Rp 75 ribu hingga Rp 150 ribu per kilogram vanili kering,” ujarnya saat dihubungi Tribun Bali, Jumat (3/7/2020).

Namun masa kejayaan tanaman vanili tak berlangsung lama.

Sekitar tahun 1995, serangan penyakit busuk batang belum bisa dikendalikan oleh petani lokal, sehingga banyak tanaman vanili yang mati.

Disamping juga serangan hama kutu loncat dari tanaman yang digunakan sebagai media rambat.

“Tak hanya itu, wilayah kami pada tahun tersebut kekurangan air. Sedangkan vanili ini jenis tanaman yang menyerupai anggrek, sehingga butuh disiram. Karenanya banyak tanaman vanili yang mati. Disamping itu juga pengaruh harga vanili yang anjlok, sehingga petani mulai beralih ke tanaman lain seperti kopi dan cengkih,” ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, wilayah Desa Kutuh telah teraliri air bersih.

Halaman
123
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved