Breaking News:

Cok Ace Nilai Tantangan Pertumbuhan Ekonomi Tinggi di Bali Akan Menggencet Lingkungan dan Budaya

Namun, di sisi lain masih terjadi ketimpangan penerimaan manfaat di masyarakat, misalnya antara daerah kota (urban) dengan desa.

Dokumentasi Pemprov Bali
Wakil Gubernur (Wagub) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) menjadi narasumber dalam Webinar Online Advisory Meeting Happy Digital City yang diselenggarakan melalui aplikasi Zoom dan diikuti dari ruang video conference Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali, Senin (13/7/2020). 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Seperti diketahui bersama, sebelum pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat selama satu dekade terakhir dan Bali pun tidak terlepas dari imbas positif tersebut.

Pertumbuhan ekonomi yang pesat di Bali kemudian memunculkan berbagai tantangan baru, salah satunya persoalan pemerataan pembangunan dan pembangunan berkelanjutan.

Wakil Gubernur (Wagub) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) menilai, sebagai daerah destinasi pariwisata, Bali memperoleh manfaat ekonomi yang besar dari sektor ini.

Namun, di sisi lain masih terjadi ketimpangan penerimaan manfaat di masyarakat, misalnya antara daerah kota (urban) dengan desa.

Tak Hanya Pengguna, Pengedar Narkoba di Bali Juga Bertambah di Masa Pandemi Covid-19

Kapolres Badung Wajibkan Seluruh Personel yang Bertugas Amankan Pemilu Menggunakan APD

Sarapan Terlalu Siang Dapat Rusak Diet dan Ganggu Kesehatan , Kapan Waktu yang Tepat?

Disamping itu, di tengah pertumbuhan ekonomi yang tinggi Bali juga menghadapi tantangan akibat faktor lingkungan dan budaya yang mengalami tekanan.

"Persoalan ini pada akhirnya mengakibatkan penurunan nilai kebahagiaan. Untuk menjawab tantangan ini, Bali membutuhkan sebuah sinergi yang baik antara pengembangan teknologi pintar dan kearifan lokal," kata Wagub Cok Ace.

Hal itu Wagub Cok Ace sampaikan saat menjadi narasumber dalam Webinar Online Advisory Meeting Happy Digital City yang diselenggarakan melalui aplikasi Zoom dan diikuti dari ruang video conference Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali, Senin (13/7/2020).

Wagub Cok Ace menambahkan bahwa indikator kebahagiaan tidak cukup diukur dari tingkat pendidikan, kesehatan dan ekonomi, tetapi juga harus diukur dengan tingkat keseimbangan yang tertuang dalam konsep Tri Hita Karana.

"Sangatlah penting untuk mempertimbangkan konsep budaya lokal," kata Wagub Cok Ace yang juga sebagai Ketua Badan Pimpinan Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali itu.

Untuk itu melalui pengembangan Program Happy Digital Cities ini, Wagub Bali berharap ada lebih banyak orang yang saling berkolaborasi untuk mengembangkan sinergitas teknologi-budaya sehingga melahirkan calon-calon urban designer yang lebih baik di masa depan.

Didampingi oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Bali, I Wayan Wiasthana Ika Putra, Wagub Cok Ace berharap agar nantinya mereka yang bergabung dalam program ini harus memiliki latar belakang atau keahlian yang khusus mengingat perencanaan tata kota.

Di akhir arahannya, Wagub Bali memandang bahwa program ini sangat dibutuhkan oleh pemerintah selaku stakeholder perencana atau urban designer.

Selain itu, pihak swasta, misalnya pihak pengembang dan perencana tata kota juga bisa menjadi end user program Happy Digital Cities. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved