Breaking News:

Abdul Aziz Resmi Ditahan, Terkait Kasus Korupsi Pembangunan Kantor Desa Celukan Bawang

Kejari Buleleng secara resmi telah melakukan penahanan terhadap Abdul Aziz, tersangka kasus korupsi pembangunan Kantor Desa Celukan Bawang

Tribun Bali/Dwi Suputra
Ilustrasi korupsi. 

TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Kejaksaan Negeri (Kejari) Buleleng secara resmi telah melakukan penahanan terhadap Abdul Aziz, tersangka kasus korupsi pembangunan Kantor Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali.

Demikian disampaikan Kepala Kejaksaan Negeri Buleleng I Putu Gede Astawa, Rabu (22/7/2020).

Seperti diketahui, Abdul Aziz terbukti melakukan korupsi pembangunan Kantor Desa Celukan Bawang, hingga menimbulkan kerugian negara sebesar Rp 155.374.470,01.

Aziz merupakan Direktur CV Hikmah Lugas, selaku pekerja dari proyek pembangunan Kantor Desa Celukan Bawang.

Kejari menemukan fakta dalam pelaksaan pembangunan Kantor Desa Celukan Bawang, pengerjaan fisiknya hanya senilai Rp 844.625.529,99.

Sementara dalam RAB, seharusnya Rp 1.157.932.321.

Sehingga Aziz terbukti telah menimbulkan kerugian uang negara sebesar Rp 155.374.470,01.

"Abdul Aziz sudah kami tetapkan sebagai tersangka, dan sudah dilakukan penahanan. Ini adalah komitmen Kejaksaan Negeri, karena pembangunan Kantor Desa Celukan Bawang tidak sesuai dengan speknya. Abdul Aziz ini tersangka kedua dari kasus korupsi pembangunan Kantor Desa Celukan Bawang, setelah Muhammad Ashari," ucapnya.

Astawa menyebut, setelah tersangka Aziz resmi ditahan, berkas perkara akan segera dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum.

Apabila hasil penyidikan dari tim penyidik sudah dinyatakan lengkap, maka akan ditindaklanjuti dengan penyerahan tersangka dan barang bukti agar bisa diproses di pengadilan.

Sementara terkait barang bukti yang sudah diamankan, berupa uang tunai yang disita dari tersangka Aziz senilai Rp 155.374.470,01.

"Barang bukti yang kami amankan, berasal dari kasus yang menjerat tersangka Ashari sebelumnya, ditambah dengan sitaan uang tunai senilai Rp 155 juta yang merupakan pengembalian dari tersangka, untuk mengembalikan kerugian negara yang dinikmati oleh tersangka. Dia (Aziz, red) memang sudah beriktikad baik untuk mengembalikan kerugian negara, namun tetap kami tahan, " terangnya.

Atas perbuatan yang dilakukan, Aziz pun dijerat dengan Pasal 2 Undang-Undang Tipikor, jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP, dan subsider Pasal 3 UU RI Nomor 31 Tahun 1999, tentang sebagaimana telah diubah dan diperbaharui dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

(*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved