Kisah Sukses Festival Indonesia Moskow, Dapat MURI dan Transaksi 10,7 Juta Dolar AS
Kita Kedubes pertama yang mendapat rekor MURI karena menyelenggarakan empat kali event berturut-turut dan besar sekali.
Penulis: Kander Turnip | Editor: Kander Turnip
Kisah Sukses Festival Indonesia Moskow, Dapat MURI dan Transaksi 10,7 Juta Dolar AS
TRIBUN-BALI.COM, MOSKOW - Duta Besar (Dubes) RI untuk Rusia dan Belarus, M Wahid Supriyadi baru pertama kali menggelar Festival Indonesia Moskow, pada 2016 lalu.
Persiapannya hanya sekitar 4 bulan sejak datang ke Moskow Rusia, April 2016 dan acaranya digelar awal Agustus tahun yang sama.
"Saya datang April 2016 dan Pak Jokowi datang 16 Mei. Setelah sekitar 1 bulan menyiapkan kunjungan presiden dan praktis sekitar 2,5 bulan saya mempersiapkan Festival Indonesia. Bikin 30 boot gratis," ujar Dubes, Selasa (21/7/2020) lalu.
Wahid menyebutkan, proyek ini tidak mudah. Apalagi orang Indonesia mungkin menganggap Rusia tidak aman, dan sebagainya.
VIDEO: Kisah Sukses Festival Indonesia Moskow, Raih Rekor MURI, hingga Transaksi 10,7 Juta Dolar AS
"Saya pun mencari taman yang compact. Saya tadinya mau di Gorky Park. Semua tahu di Gorky Park ini ramai dan ada museum Scorpions. Luasnya 30 ha. Wah nggak mungkin lah. Akhirnya dapatlah taman yang compact di tengah kota, namanya Ermitaz Garden. Dan saya hitung 30 boot sudah kita siapkan," ujarnya.
Setelah kontak sana sini dan bujuk sana sini akhirnya ada 29 boot yang terisi. Tinggal 1. Akhirnya produsen ban Adilles yakni Multistrada yang mengisi. Dan dua tahun berikutnya perusahaan ban itu ekspor ke Rusia.
Waktu itu pengunjungnya sampai 60 ribu lebih.
"Waktu itu ada stand dari Bengkulu, mereka bikin keripik singkong, dibikin kue singkong. Dalam 1,5 jam ludes. Waktu itu saya belum banyak pengalaman, dan ibu-ibu Dharma Wanita buka stand jual nasi goreng dan sate. Ternyata kurang dari 2 jam sudah ludes," ujarnya.
Orang antre panjang sekali melihat pisang nganggur. Orang Rusia kan gak tau kalau pisang bisa digoreng, dibakar, dibolen, dikolak, segala macam. Mereka taunya pisang cuma dibuka kulitnya, lalu dimakan.
"Ada juga yang jual kerupuk yang diikat dengan nasi goreng. Ludes juga. Sekarang kerupuk populer di Rusia. Dimakan sambil minum bir," katanya.
Ketika mendesain tahun kedua, itu boot-nya sudah 70 yang mendaftar dan sudah sangat krodit. Pengunjung 91 ribu lebih. Kemudian dikombinasikan dengan Busniness Forum.
Itu transaksi on the spot mulai jalan. Pengusaha Rusia dan Indonesia mulai bertemu. Dan ini seperti one stop shopping. Ini festival covernya budaya, tetapi itu ada jualan semuanya. Di selang-seling itu ada kesenian-kesenian.
"Awal-awal itu acara kesenian yang mengisinya kebanyakan orang Rusia. Kita punya grup gamelan, semua yang nabuh gamelan adalah orang Rusia, kecuali pelatihnya. Juga ada tari-tarian klasik dari Bali, Jawa, dan daerah lainnya. Semuanya itu dilakukan oleh orang Rusia. Bahkan dua kali festival itu ada orang Jepang yang menarikan tari Bali demikian luwesnya karena lama di Bali. Waktu itu Gubernur Bali datang dan dia nggak percaya kalau itu orang Jepang," papar Wahid yang memasuki purnatugas akhir Juli 2020 ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/dubes-ri-untuk-rusia-dan-belarus-m-wahid-supriyadi-dan-jaya-suprana.jpg)