Breaking News:

Corona di Bali

14 Wilayah di Denpasar Berstatus Zona Hijau Covid-19, Sekolah Tatap Muka Mulai Dibahas

Dewa Rai menambahkan, walaupun sudah zona hijau, tidak serta merta wilayah tersebut bebas penularan Covid-19.

Tribun Bali/Dwi Suputra
Ilustrasi sekolah 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Sampai saat ini 14 desa maupun keluarahan yang berstatus zona hijau Covid-19.

Walaupun demikian, pembukaan sekolah di wilayah zona hijau dengan pembelajaran secara tatap muka masih belum dilakukan walaupun sudah ada beberapa persiapan dan pertimbangan yang dilakukan.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Denpasar, I Dewa Gede Rai yang diwawancarai Selasa (4/8/2020) siang mengatakan, Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar terus melakukan rapat dengan MKKS maupun kepala sekolah membahas tentang pembelajaran tatap muka.

“Saat ini terus dirapatkan bagaimana formula pembelajaran tatap muka di zona hijua ini. Masih dibahas termasuk bagaimana simulasinya nanti,” katanya.

Dewa Rai menambahkan, walaupun sudah zona hijau, tidak serta merta wilayah tersebut bebas penularan Covid-19.

Kasusnya masih bisa melonjak kembali jika tak memperhatikan protokol kesehatan.

Walaupun belum diterapkan, namun berbagai persiapan terus dilaksanakan.

“Dipersiapkan nanti waktunya berapa jam dilaksanakan pembelajaran tatap mukanya, kapasitasnya berapa, apa perlu pembatas dengan mika antara satu meja dengan meja lainnya,” katanya.

Selain itu, menurut Dewa Rai, dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri pembelajaran tatap muka baru bisa dilaksanakan jika wilayah tersebut zona hijau, mendapat ijin kepala daerah, dan harus ada ijin dari orang tua siswa.

Sekolah juga harus sudah siap dengan semua protokol kesehatan.

“Kalau mau belajar tatap muka, sekolah sudah siap atau memenuhi apa belum. Kalau siap nanti berapa shift, berapa jam, kalau misalnya dulu dalam satu ruangan 40 siswa, sekarang bergilir berapa orang. Sekarang masih dicari formulanya,” imbuh Dewa Rai.

Ia pun menambahkan, jika memang benar-benar pembelajaran dilaksanakan dengan tatap muka, pasti akan ada pro kontra. 

Zona Hijau di Denpasar

Berdasarkan data terakhir dari Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Kota Denpasar, sebanyak 7 desa maupun kelurahan dengan nol kasus positif Covid-19.

Ketujuh desa maupun kelurahan tersebut yakni Kelurahan Serangan, Desa Sanur Kauh, Desa Sanur Kaja, Kelurahan Dangin Puri, Desa Dauh Puri Kauh, Kelurahan Penatih, dan Desa Tegal Harum.

“Ini merupakan data terakhir yang kami terima per malam kemarin. Nol kasus ini artinya semua pasien positif Covid-19 di wilayahnya sudah sembuh,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Denpasar, I Dewa Gede Rai yang diwawancarai Selasa (4/8/2020) siang.

Selain 7 desa maupun kelurahan dengan nol kasus positif Covid-19, juga ada beberapa desa maupun kelurahan lainnya yang masuk zona hijau dengan kurang dari tiga kasus positif Covid-19.

Desa maupun kelurahan tersebut yakni Kelurahan Ubung, Desa Dangin Puri Kelod, Kelurahan Renon, Desa Sidakarya, Desa Penatih Dangin Puri, Desa Kesiman Kertalangu, dan Desa Dangin Puri Kauh.

Sehingga totalnya sudah 14 desa maupun kelurahan yang masuk zona hijau dari 43 desa maupun kelurahan yang ada di Denpasar.

Selain itu, tiga desa masih masuk kategori zona orange yakni Desa Pemecutan Kaja sebanyak 13 kasus, Desa Pemecutan kelod dengan 12 kasus dan Desa Peguyangan Kaja dengan 12 kasus.

Sementara 26 desa maupun kelurahan lainnya masuk zona kuning dengan jumlah kasus tiga hingga 11 kasus positif Covid-19.

“Walaupun dia masuk zona hijau baik nol kasus maupun di bawah 3 kasus, namun masyarakat dan satgas di wilayah jangan sampai lengah. Jangan abaikan protokol kesehatan, karena masih ada ancaman penularan. Apalagi dengan adanya new normal dan masuknya wisatawan nusantara ke Bali,” katanya.

Sedangkan untuk pelaksanaan swab saat ini difokuskan pada warga yang kontak erat dengan pasien positif Covid-19.

Jika sebelumnya tracing dilakukan sampai melingkupi gang, banjar atau desa, saat ini hanya yang pernah bersentuhan langsung.

“Misal sekarang kita lakukan tes swab kepada keluarganya, atau orang yang benar-benar dapat bersentuhan langsung, atau satu ruangan. Kalau sebelumnya kan sampai satu gang atau satu banjar padahal yang positif satu orang,” katanya. 

Denpasar Longgarkan Kebijakan

Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar mulai melonggarkan kebijakan.

Pemilik kos di Kota Denpasar sudah bisa menerima penghuni baru asal memenuhi sejumlah persyaratan.

Pemkot Denpasar sempat melarang pemilik kos menerima penghuni baru sejak merebaknya pandemi Covid-19 bulan Maret lalu.

Kebijakan membolehkan pemilik kos menerima penghuni baru sejalan dengan dibukanya kunjungan wisatawan nusantara ke Bali sejak 31 Juli 2020.

Namun, pemilik kos wajib memenuhi beberapa persyaratan.

"Artinya tetap selektif kalau merima penghuni baru, karena masih terjadi penularan Covid-19 walaupun wisatawan domestik dan nusantara sudah dibuka," kata Dewa Gede Rai, Senin (3/8/2020).

Dewa Rai menjelaskan, untuk penghuni kos baru yang berasal dari luar Bali wajib menunjukkan hasil rapid test negatif.

Selain itu yang bersangkutan juga harus melapor kepada kepala lingkungan, kepala dusun atau ke desa kelurahan tempatnya berdomisili.

"Mereka juga kami imbau untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari," imbuhnya.

Sementara jika penghuni kos baru berasal dari luar Kota Denpasar namun masih di wilayah Bali, diwajibkan melapor diri ke kepala lingkungan, kepala dusun maupun ke kelurahan atau desa setempat.

Sama seperti penghuni kos dari luar Bali, mereka juga harus melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.

"Setiap penduduk baru yang melapor tersebut akan dipantau. Isolasi mandiri itu sebagai bentuk antisipasi penularan Covid-19," kata Dewa Rai.

Apalagi menurutnya hingga saat ini kasus transmisi lokal Covid-19 masih sulit diprediksi dan dideteksi.

Wajib lapor diri ke kepala lingkungan tempat tinggalnya merupakan langkah untuk tertib administrasi kependudukan.

"Istilahnya jangan disamakan, wisatawan mancanegara bisa diterima oleh hotel-hotel, bukan berarti kos-kosan sudah bebas menerima penghuni baru.

Bukan itu substansinya, namun bagaimana masyarakat waspada dan hati-hati agar tak terjadi ledakan kasus Covid-19," katanya.

Dewa Rai mengatakan, jam operasional di 12 desa/kelurahan yang sudah masuk zona hijau diperpanjang sampai pukul 23.00 Wita.

Adapun 12 desa maupun kelurahan yang masuk zona hijau yakni Desa Penatih Dangin Puri, Desa Kesiman Kertalangu, Desa Sanur Kaja, Desa Sanur Kauh, Desa Sumerta Kaja, Kelurahan Renon, Desa Dauh Puri Kelod, Kelurahan Dangin Puri, Desa Dauh Puri Kauh, Kelurahan Ubung, Desa Tegal Harum, dan Kelurahan Serangan.

Sebanyak 30 desa dan kelurahan masih masuk zona kuning dan satu desa yakni Desa Peguyangan Kaja zona oranye, Dewa Rai menjelaskan wilayah tersebut dinyatakan masuk zona hijau jika kasus positif aktif kurang dari 3 orang.

“Kalau kasus aktif ada 3 sampai 10 orang itu artinya wilayah tersebut masuk zona kuning. Untuk zona oranye jika kasus aktif sebanyak 11 sampai 40 orang. Kalau lebih dari itu masuk zona merah. Namun saat ini wilayah di Kota Denpasar tak ada yang zona merah,” kata Dewa Rai.

Menurut dia, wilayah yang masuk zona kuning dan oranye, jam operasional masih dibatasi hingga pukul 21.00 Wita.

“Pembatasan jam operasional disesuaikan dengan zona. Hanya yang zona hijau yang bisa buka sampai pukul 23.00 Wita. Kalau zona kuning, zona oranye, apalagi zona merah, itu masih tetap sampai pukul 21.00 Wita,” katanya.

Untuk zona hijau, walaupun pembatasan jam operasional sudah diperlonggar, namun masyarakat tetap diwajibkan mematuhi protokol kesehatan.

“Selama vaksin belum ada, protokol kesehatan masih harus tetap dijalankan. Walaupun Bali sudah membuka wisatawan nusantara, bukan berarti kembali normal seperti dulu. New normal bukan berarti kembali normal,” katanya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved