Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Dharma Wacana

Rezeki Ada Tapi Habis Begitu Saja? Netralisir dengan Pebayuhan Tampel Bolong

Tujuan pelaksanaannya, agar rezeki, kesehatan, keadaan sosial berjalan dengan baik. Segala kekurangan yang ada dari kelahiran bisa dinetralisir

Tayang:
Penulis: Ida Ayu Made Sadnyari | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun bali/Ida Ayu Made Sadnyari
Ida Pedanda Gede Anggustha Lor Magelung saat memberikan dharma wacana 

Lahir Hari Minggu memikul beban yang berat. Menjadi tulang punggung.

Lahir Hari Senin suka menyawer, suka berbelanja, dan biasanya orang-orang senang berteman dengan orang yang lahir Hari Senin karena royal dan gampang memberikan apapun yang dimilikinya.

Lahir Hari Selasa sering menahan beban keluarga, terutama terbebani oleh orang-orang yang tidak mampu.

Lahir Hari Rabu memiliki beban yang berat di belakang.

Lahir Hari Kamis memiliki beban karena orang-orang lain yang jarang dikenal.

Lahir Hari Jumat memikul beban yang berat. Menjadi tulang punggung.

Lahir Hari Sabtu memiliki kecenderungan suka menyawer, mengumbar nafsu.

“Beliau menciptakan lubang, Beliau juga memberikan tuntunan untuk menutupnya,” ungkap Ida Pedanda Gede Anggustha Lor Magelung dari Geriya Anyar, Sading, Abiansemal, Badung, Bali.

Sarana yang digunakan dalam Tampel Bolong adalah lemak penyu sungai yang memiliki tiga kuku, dicampur jamur kuping, daun kangkang yuyu.

Setiap lubang ditutup dengan cara tersebut, dan sesajennya adalah ayaban tumpeng pitu peras pengambean. Dilanjutkan dengan mejaya-jaya.

Sesuai tuntunan, dengan tampel bolong diharapakan rezeki tidak banyak yang hilang, bisa ditampung, kesehatan juga terjaga.

Tampel bolong bisa dilakukan sejak tiga bulan, dilakukan bisa sekali maupun lebih dari sekali.

Bisa dilakukan perorangan maupun secara massal. (*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved