Tiga Kelompok Pembudidaya Ikan di Bangli Dapat Bantuan Bioflok
Bioflok kumpulan dari berbagai organisme baik bakteri, jamur, protozoa, ataupun algae yang tergabung dalam sebuah gumpalan (floc).
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, BANGLI– Tiga kelompok pembudidaya ikan di Bangli, Bali, mendapatkan bantuan paket bioflok.
Sesuai rencana, bantuan tersebut mulai diterima pada bulan Oktober mendatang.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli, I Wayan Sarma, Selasa (22/9/2020) menjelaskan, bioflok kumpulan dari berbagai organisme baik bakteri, jamur, protozoa, ataupun algae yang tergabung dalam sebuah gumpalan (floc).
Dalam penerapnnya pada budidaya lele, teknologi bioflok memanfaatkan nitrogen anorganik menjadi nitrogen organik yang tidak beracun.
• Serahkan Alsintan, Wabup Kembang Dorong Minat Generasi Muda Tekuni Pertanian
• KBRI Moskow Jembatani Kerja Sama Sektor Energi Indonesia dan Rusia
• Sampah di TPA Bengkala Buleleng Overload, Sistem Sanitary Landfill Disebut Jadi Solusi Jangka Pendek
Nitrogen yang sudah diubah ini bisa digunakan untuk pakan lele, sehingga lebih hemat biaya.
“Keuntungan dari sistem bioflok ini lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah. Karena kotoran maupun sisa pakan itu diolah kembali dengan bantuan mikroba, sehingga bisa menjadi pakan ikan,” ujarnya.
Sarma mengungkapkan, pada tahun ini pihaknya mendapatkan bantuan tiga paket bioflok dari Direktorat Jendral Budidaya Peringanan.
Bantuan tersebut menyasar tiga kelompok budidaya ikan dengan komoditas berbeda di tiga Kecamatan.
“Ada dari Desa Apuan, Susut itu budidaya ikan lele, begitu pun dengan kelompok budidaya ikan di Desa Jehem, Tembuku. Sedangkan kelompok budidaya ikan di Danau Batur, tepatnya wilayah Desa Songan, Kintamani itu untuk ikan nila,” ungkapnya.
Sarma menegaskan bantuan tersebut berupa kegiatan.
Dimana masing-masing kelompok mendapatkan satu paket bioflok atau sebanyak lima kolam bundar.
“Jika dinominalkan nilainya mencapai Rp. 180 juta per satu paket. Bantuan ini berupa kegiatan, jadi kelompok tinggal menyiapkan lahan saja. Kemungkinan bulan Oktober masing-masing kelompok sudah menerima,” ucapnya.
Disinggung upaya kedepannya, Sarma mengatakan, akan kembali mengusulkan bantuan bioflok pada tahun berikutnya.
Bahkan diakui apabila hasil budidaya ikan dengan sistem bioflok bagus, pihaknya juga akan mengusulkan melalui APBD.
“Apabila anggarannya memungkinkan pasti kita usulkan,” tandasnya. (*).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/dinas-pkp-bangli-ketika-melihat-budidaya-ikan.jpg)