Corona di Bali
Ketahanan Pangan, Amunisi di Tengah Pandemi Covid-19
Program ketahanan pangan menjadi salah satu amunisi "senjata" Pemerintah Provinsi Bali bagi rakyat di tengah pandemi Covid-19
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Irma Budiarti
Laporan Wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Program ketahanan pangan menjadi salah satu amunisi "senjata" Pemerintah Provinsi Bali bagi rakyat di tengah pandemi Covid-19 yang dampaknya dirasakan sejak 8 bulan terakhir.
Kepala Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Pemerintah Provinsi Bali Nyoman Suwarta mengatakan, strategi peningkatan ketahanan pangan idealnya dilaksanakan secara berkelanjutan tidak terbatas pada waktu dan momentum tertentu.
Oleh sebab itu, pemerintah pusat maupun daerah menggalakkan program ketahanan pangan, seperti halnya Gubernur Bali yang telah mengeluarkan Pergub 99/2018 tentang pemasaran dan pemanfaatan produk lokal Bali.
“Ketahanan pangan harus digalakkan tidak saat masa pandemi Covid-19 saja, karena urusan pangan merupakan urusan perut manusia, jika pangan tidak terpenuhi maka akan ada letupan dari dalam diri manusia. Tentunya untuk kepentingan masyarakat Bali secara menyeluruh. Pada saat pandemi programnya semakin mencuat, trennya naik karena semakin diminati masyarakat. Di satu sisi masyarakat mengurangi keluar rumah, otomatis apa yang diperkuat di rumah," terang Suwarta saat dijumpai Tribun Bali di ruang kerjanya, Denpasar, Bali, Sabtu (26/9/2020).
Melakukan penanaman tanaman lokal di rumah selaras dengan Program Pekarangan Lestari (P2L) yang sangat bermanfaat di tengah masa pandemi Covid-19.
"Satu sisi masyarakat mampu menyiapkan pangan bagi keluarga, satu sisi muncul kreativitas di rumah masing-masing," ujar dia.
P2L menyasar kelompok-kelompok masyarakat, baik di pedesaan maupun perkotaan dengan memberdayakan kelompok wanita tani, karang taruna, dan kelompok lainnya.
Dalam perkembangannya, antusias masyarakat untuk mengolah lahan melalui program P2L semakin meningkat di Bali saat pandemi Covid-19.
“Saat pandemi Covid-19 ini kita dapat 136 peserta P2L, saat ini sudah ada 32 kelompok pengembangan, 38 kelompok penumbuhan, dan 66 kelompok pembinaan, ditargetkan 716 pengembangan P2L, jika terpenuhi saya yakin masyarakat Bali mengonsumsi sayuran karena masing-masing desa terpenuhi,” katanya
Setiap kelompok P2L diberikan anggaran dana senilai Rp 50 juta.
Dana tersebut diperuntukkan pembuatan rumah bibit untuk keberlangsungan dan keberlanjutan program tidak hanya 1 tahun, kebun demplot untuk wahana edukasi anak-anak dari penyebaran hingga pengembangannya.
Kemudian bibit, pupuk, dan pengadaan peralatan bercocok tanam.
“Varian bibit umumnya adalah sayuran dan buah yang bisa menghasilkan 42 hari panen dan diproduksi cepat seperti sayur hijau, pok cay, selada, tomat, terong, cabe, tanaman buah, papaya, stroberi, jambu Kristal, dan lainnya, sehingga mereka komplet untuk mengonsumsi B2SA pangan bergizi dari segi kesehatan terpenuhi. Dengan terpenuhinya gizi, otomatis imun akan meningkat untuk melawan serangan Covid-19. Semua rel ini pas di tengah Covid-19, kita dulunya minta sulit sekali, bahkan di daerah sulit sekali, tidak dianggap perlu oleh perencana di daerah, ternyata sangat dibutuhkan masyarakat dan bermanfaat bagi masyarakat,” bebernya.
• Dukung Ketahanan Pangan, Wabup Kembang Hartawan Tebar 28 Ribu Benih Ikan Lele
• Sukseskan Ketahanan Pangan, Kodam IX/Udayana Gelar Panen Padi Perdana Hasil Kerja Sama Terpadu
Selama pandemi Covid-19, animo masyarakat meningkat untuk memanfaakan pekarangan sebagai ketahanan pangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/krama-balimenjalankanprogram-p2l-dinas-pertanian-dan-ketahanan-pangan-pemerintah-provinsi-bali.jpg)