Breaking News:

Corona di Indonesia

Aprindo Beberkan Kesulitan yang Dihadapi Pelaku Industri Ritel di Tengah Pandemi Covid-19

“Masyarakat marjinal atau dari kalangan ekonomi lemah yang jumlahnya besar dalam penduduk, terkendala sebab tidak ada uang

Editor: Wema Satya Dinata
Istimewa
ilustrasi - Suasana monitoring Aprindo Bali terhadap harga beras di sejumlah peritel modern. 

TRIBUN-BALI.COM - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N. Mandey mengatakan kesulitan yang dihadapi oleh pengusaha ritel modern saat ini, yakni terkait konsumsi dan daya beli masyarakat yang kian menurun.

Ia memaparkan, di masa pandemi COVID-19 masyarakat dari kelas menengah ke bawah banyak terdampak PHK, pemotongan gaji, hingga dirumahkan.

Ketiadaan gaji dari golongan mayoritas di masyarakat ini, berdampak pada purchasing power.

“Masyarakat marjinal atau dari kalangan ekonomi lemah yang jumlahnya besar dalam penduduk, terkendala sebab tidak ada uang.

Ini Permintaan Khusus Shin Tae-yong Jelang Laga Timnas U19 Indonesia Vs NK Dugopolje

Aparat Amankan 89 Remaja yang Hendak Unjuk Rasa, Dites Swab Dua Orang Positif Covid-19

Donald Trump Dinilai Tak Adil terhadap Rakyatnya dalam Mendapat Akses Pengobatan Covid-19

Ini berdampak pula pada penjualan ritel yang tidak maksimal," jelas Roy kepada Kontan, Rabu (7/10/2020).

Ia melanjutkan, hal yang sama juga terjadi pada kalangan menengah atas yang cenderung menahan konsumsinya akibat pemberlakuan WFH, tinggal di rumah (stay at home) atas kebijakan PSBB ketat di beberapa daerah.

Roy menyoroti, PSBB ketat juga ikut berkontribusi membuat peritel modern banyak tersandung masalah hutang, sebab kebijakan ini semakin membuat masyarakat menghindari mall dan gerai ritel modern lainnya.

"Tadinya performa konsumsi sudah mulai membaik dengan transisi new normal ini.

Pada Juni sampai Agustus ada perbaikan Indeks Penjualan Riil (IPR) dari minus 17,1% menjadi minus 10% di Agustus.

Ada perbaikan sekitar 7% sampai 8%. Tapi ini kembali lagi menjadi minus 12,3%," ujarnya.

Pada September lalu, pihaknya memprediksi IPR bisa berbalik lagi ke level minus 15% sampai dengan minus 17% akibat pemberlakuan PSBB ketat di beberapa daerah.

Roy menambahkan, dibandingkan dengan PSBB ketat, pihaknya menyarankan agar Pemerintah memberlakukan mini lockdown di beberapa wilayah untuk mencegah penyebaran virus COVID-19.

"PSBB ketat ini memukul perusahaan dan industri ritel modern," imbuhnya.(*)

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved