Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Wawancara Khusus: Marissa Hutabarat Boru Batak Jadi Hakim di Amerika Serikat

Wanita ini membanggakan diaspora Indonesia atas keberhasilannya menjadi hakim di New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat.

Editor: Ady Sucipto
dok pribadi
Marissa Hutabarat 

Saya berkomitmen untuk menjadi hakim rakyat. Karena saya memiliki belas kasih supaya orang-orang dari semua lapisan masyarakat merasa diterima, dihargai, dan suaranya benar-benar didengar oleh hakim yang adil dan tidak memihak.

Menjadi hakim adalah impian Anda. Apa mimpi atau tujuan terbesar dalam hidup ini?

Melayani masyarakat dengan kemampuan terbaik saya. Baik saat saya sebagai mentor, pengacara keluarga, dan sekarang sebagai hakim untuk memastikan bahwa sistem pengadilan di sini punya proses yang lebih efisien dan berguna untuk mereka yang tidak memiliki akses ke pengadilan.

Menjadi seorang hakim adalah impian saya sejak masuk ke sekolah hukum. Saya bersyukur kepada Tuhan, memberikan saya kesempatan untuk melayani dalam kapasitas ini (sebagai hakim).

Saya juga berterima kasih kepada keluarga saya atas cinta mereka dan menanamkan dalam diri saya nilai-nilai yang telah membentuk saya dan mempersiapkan saya untuk melayani masyarakat, termasuk dengan semua doa, kata-kata penyemangat, dan dukungan yang saya terima dan membantu mewujudkan impian saya.

Melayani masyarakat dalam kapasitas sebagai hakim di pengadilan ini adalah sebuah kehormatan dan saya berkomitmen untuk bekerja tanpa lelah untuk melayani masyarakat dengan baik.

Seberapa jauh Anda mempelajari atau memahami budaya Batak?

Apa yang selalu ditanamkan kepada saya tentang budaya Batak adalah pentingnya dedikasi kepada keluarga.

Menjadi seseorang yang berorientasi keluarga selalu menjadi landasan saya dalam hidup.

Nenek saya menjadi janda saat usia muda. Ia memiliki tujuh anak. Kakak perempuannya kerap datang untuk membantu membesarkan anak-anaknya.

Ketika anak-anaknya dewasa, yang tua merawat yang lebih muda. Bahkan ketika orang tua saya sibuk bekerja menghidupi kami, nenek saya dengan senang hati membesarkan saya sejak berusia sembilan bulan.

Sekarang saya sebagai yang tertua dari tiga bersaudara, saya memastikan bahwa saya membantu merawat dan membesarkan adik-adik.

Saat menjalani perkuliahan di Universitas DePaul, saya membantu mengerjakan pekerjaan rumah adik-adik saya, dan menjadi 'sopir' pribadi mereka.

Waktu-waktu yang saya habiskan bersama mereka sangat berarti karena saya ingin memberi mereka perhatian.

Sama halnya perhatian yang diberikan Ompung dan orang tua saya kepada saya selama saya tumbuh dewasa.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved