Bencana Alam di Tabanan
Rumah Warga di Tabanan Terendam Air Setinggi Sekitar 2.5 Meter
Rumah Boping Juga Terendam Air Setinggi 30 Cm, Boping Sentil Pemerintah Tak Becus Urus Drainase
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN, Selain terjadi tanah longsor, luapan air hingga mengakibatkan rumah warga terendam air juga terjadi di Desa Bajera, Kecamatan Selemadeg, Tabanan, Bali, Sabtu (10/10/2020).
Salah satunya adalah sebuah rumah warga di Banjar Bajera Sari, Desa Bajera, yang terendam air setinggi kurang lebih 2.5 meter.
Genangan air tersebut diduga terjadi karena intensitas air hujan yang begitu tinggi tak sebanding dengan saluran drainase yang memadai.
Perbekel Bajera, I Putu Sukarata membenarkan bahwa salah satu rumah warganya di Banjar Bajera Sari terendam.
• 5 Zodiak Ini Bisa Mengatur & Menyembunyikan Emosinya, Apa Zodiakmu Termasuk?
• BREAKING NEWS - Beberapa Titik di Tabanan Alami Gangguan Arus Lalulintas, Polisi Bantu Warga
• Bhabinkamtibmas Polsek Kuta Imbau Pengunjung dan Pedagang di Pasar Disiplin Terapkan Prokes
Penyebab luapan air tersebut karena got tak mampu menampung air hujan yang terjadi sejak Jumat (9/10/2020) malam hingga Sabtu (10/10/2020) siang ini.
"Ada di Banjar Bajera Sari (rumah terendam). Itu merupakan limpahan air saluran drainasenya, apalagi rumah warga tersebut berada agak di bawah. Kemudian juga got di Jalan Raya juga meluap atau tidak muat," ungkapnya.
Sementara itu, anggota DPRD Provinsi Bali, I Ketut "Boping" Suryadi juga membenarkan peristiwa rumah warga terendam tersebut.
Rumah tersebut berada di belakang rumahnya di Banjar setempat.
"Iya, di belakang rumah kurang lebih 2.5 meter terendam. ini juga saya kena banjir. Air masuk ke rumah hingga setinggi 30 cm. Ini juga baru istirahat dari tadi bersih-bersih," ucap Boping saat dihubungi, Sabtu (10/10/2020).
Dia melanjutkan, peristiwa rumah terendam tersebut diakibatkan oleh saluran irigasi kuno zaman dulu yang melintas di bawah Jalan Denpasar-Gilimanuk yang diabaikan sejak dulu.
Jika dulunya karena hunian belum begitu banyak, saluran ini peruntukan untuk aliran irigasi sehingga tak masalah.
Namun sekarang sudah banyak hunian dan saluran irigasinya tak diperlebar yang menjadi masalah.
Artinya, saluran irigasi tersebut saat ini tak kuat menampung debit air yang begitu besar.
Boping menuturkan, saluran air zaman kuno yang nyeberang ke Selatan di bawah Jalan Utama ini hanya berdiameter 40 cm.
Sehingga tak kuat menampung derasnya debit air jika terjadi hujan seharian.
"Sudah dari sekitar 10 tahun lalu kita sampaikan ini ke PU Kabupaten, tapi ini kan wewenang PU Provinsi. Setelah disampaikan memang ya sempat ditinjau, diukur, dicek aja. Artinya apa mereka tak becus dan perlu berbenah dengan era baru ini. Kalau saja saluran air itu dibongkar, diperlebar, aman dah. Kasihan setiap ada hujan seperti ini selalu begini," sentilnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/salah-satu-rumah-warga-terendam-air-di-tabanan.jpg)