Dewa Ayu Carma Citrawati Tuangkan Kritik Dalam Karya Cerpen Berbahasa Bali
Dewa Ayu Carma Citrawati telah melahirkan cerpen berbahasa Bali. Ia pun telah menghasilkan 3 karya buku sejak 2016.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Kecintaan terhadap bahasa ibu, Bahasa Bali, nyata direalisasikan Dewa Ayu Carma Citrawati, lewat karya cerpen.
Wanita berkulit putih asli Klungkung ini, telah melahirkan cerpen berbahasa Bali.
Ia pun telah menghasilkan 3 karya buku sejak 2016.
Diantaranya, Kutang Sayang Gemel Madui tahun 2016.
Baca juga: Jadwal Belajar dari Rumah TVRI Kamis 15 Oktober 2020, Kelas 4-6 SD: Siklus Hidup Makhluk Hidup
Baca juga: 5 Drama Korea Komedi Romantis yang Bisa Jadi Mood Booster, Kisah Cinta Menggemaskan di Kampus
Baca juga: Johnson & Johnson Hentikan Uji Klinis Vaksin Covid-19, Peserta Dikabarkan Menderita Sakit Misterius
Kemudian Saduran Sumanasataka Sekuntum Pembebasan (2019).
Serta Aud Kelor pada 2019 juga.
“Untuk cerpen tema besarnya memang lebih banyak kritik sosial,” jelasnya kepada Tribun Bali, Rabu (14/10/2020).
“Buku saya berjudul ‘Kutang Sayang Gemel Madui’ berisi 13 cerpen dengan tema kritik sosial. Sementara Aud Kelor, semua tokohnya bernama Kelor,” sebutnya.
Alumni Unud ini, ingin menuangkan kritik sosial dalam karya.
Sebab baginya, banyak hal terdekat yang bisa dijadikan sebuah cerpen.
Dan cerpen bisa menjadi dokumentasi, untuk masalah-masalah di dekat kehidupan sehari-hari.
“Kalau buku yang Sumanasantaka itu, adalah saduran kekawin. Buku ini diterbitkan perpusnas. Karena ada sayembara penulisan saduran, jadi saya menuangkan kembali kekawin Sumanasantaka menjadi bentuk saduran,” jelasnya.
Citra, sapaan akrabnya, melanjutkan Sumanasataka ini lebih mirip novel dibandingkan cerpen.
Ia pun terus membaca, dan berencana akan menambah karya-karya berbahasa Bali ke depannya.