Dewa Ayu Carma Citrawati Tuangkan Kritik Dalam Karya Cerpen Berbahasa Bali
Dewa Ayu Carma Citrawati telah melahirkan cerpen berbahasa Bali. Ia pun telah menghasilkan 3 karya buku sejak 2016.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
“Sekarang saya sedang membaca geguritan,” katanya.
Sejatinya, Citra telah senang menulis sejak SMP namun masih berbahasa Indonesia.
Pemilihan Bahasa Bali, sebagai bahasa dari karyanya bukan tanpa alasan.
“Saya memilih Bahasa Bali karena rasa di dalamnya begitu dalam dan indah,” imbuh wanita berambut ikal ini.
Banyak kata-kata dalam Bahasa Bali, yang bisa diekspresikan dengan lebih tepat dan mengena.
Sehingga karya-karyanya lebih kaya akan ekspresi.
“Kesulitannya, adalah ketika ada ide tapi mengeksekusinya gagal. Ya karena saya kurang membaca, atau terburu-buru. Bisa juga karena belum yakin mau mengarahkan cerita kemana,” tegasnya.
Dari semua buku yang ia rilis, Aud Kelor menjadi buku paling berkesan.
Alasannya, karena prosesnya yang istimewa.
Menentukan nama Kelor di dalam karyanya, menjadi cukup panjang dan perlu banyak komunikasi dengan pengarang lain.
Kemudian cover bukunya, adalah lukisan milik Ketut Endrawan.
“Waktu itu, karya saya belum selesai dan saya liat di IG karya lukisannya bagus. Tapi ternyata karya itu belum rampung juga, sehingga pelukis dengan saya sama-sama mengerjakan karya ini,” imbuhnya.
Memang berjodoh, akhirnya lukisan rampung dan karya pun rampung.
“Jika tidak dapat cover itu, mungkin Aud Kelor tidak selesai sampai sekarang,” katanya.
Sekilas, Aud Kelor memuat 13 cerpen dan hampir sebagian besar tokoh di dalamnya menggunakan nama Kelor.
Ia menghadirkan tokoh-tokoh satir, brutal, kalem, licik, cerdas, hingga bijaksana.
Ada pula dialog antara Wayan Kelor dengan Sang Suratma, yang dikenal masyarakat Bali sebagai petugas mencatat dosa dan karma baik buruk manusia di akhirat.
Sang Suratma, digambarkan tidak menerima kesalahan sekecil apapun dan tidak menerima alasan pada setiap hal buruk, meskipun tujuannya baik. (*)