KTT ASEAN 2020

Agenda Puncak KTT ASEAN 2020 Bahas Ketegangan di Laut China Selatan

Harapannya, bisa mengatasi ketegangan di Laut China Selatan dan menyiapkan rencana pemulihan ekonomi pasca-pandemi di kawasan itu

Editor: Wema Satya Dinata
Istimewa
ILUSTRASI. logo ASEAN 

TRIBUN-BALI.COM - Para pemimpin se-Asia Tenggara memulai KTT ASEAN ke-37, pada Kamis (12/11/2020).

Harapannya, bisa mengatasi ketegangan di Laut China Selatan dan menyiapkan rencana pemulihan ekonomi pasca-pandemi di kawasan itu.

Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc dalam pidato pembukaannya pada KTT ASEAN ke-37 mengatakan, ASEAN sejauh ini belum "ditarik ke dalam pusaran" persaingan dan tantangan terhadap sistem multilateral internasional.

“Tiga perempat abad telah berlalu sejak akhir Perang Dunia Kedua.

 Perdamaian dan keamanan dunia, bagaimanapun, belum benar-benar berkelanjutan,” kata Phuc seperti dikutip Reuters.

Baca juga: IPW Perkirakan Akan Ada Mutasi Besar-besaran Jelang Pergantian Kapolri, 30 Jenderal Segera Pensiun

Baca juga: Suka Duka RSUP Sanglah Tangani Covid-19, Kehabisan Masker N95 Hingga Nakes Terpapar Covid-19

Baca juga: Tanggapi Pembelaan Tim Hukum Jerinx & Alat Bukti Talkshow Deddy Corbuzier, Jaksa Tetap pada Tuntutan

Vietnam saat ini menjadi Ketua ASEAN.

"Tahun ini, dunia secara khusus berada di bawah ancaman yang lebih besar sebagai akibat dari meningkatnya risiko yang timbul dari perilaku negara yang tidak dapat diprediksi, persaingan, dan friksi kekuatan utama," ujarnya.

Agenda puncak KTT ASEAN ke-37 adalah membahas ketegangan di Laut China Selatan, ketika Beijing berusaha untuk menegaskan klaim teritorialnya di jalur perairan yang disengketakan tersebut.

China mengklaim sekitar 80% laut termasuk sebagian besar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Vietnam serta Kepulauan Paracel dan Kepulauan Spratly.

Klaim Beijing juga tumpang tindih dengan ZEE Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Para pemimpin ASEAN juga diharapkan untuk menandatangani Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) yang didukung China pada Minggu (8/11/2020) lalu, yang bisa menjadi perjanjian perdagangan terbesar di dunia.

Kesepakatan itu kemungkinan akan memperkuat posisi China lebih kuat sebagai mitra ekonomi dengan Asia Tenggara, Jepang dan Korea, dan menempatkannya pada posisi yang lebih baik untuk membentuk aturan perdagangan kawasan.(*)

Sumber: Kontan
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved