Orderan Sepi Selama Pandemi, Mariani Tetap Bertahan Membuat Kerajinan dari Batok Kelapa

Meskipun sepi order dimasa pandemi, Mariani tetap bertahan membuat kerajinan dari batok kelapa.

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Ni Wayan Mariani ketika merangkai keping batok kelapa menjadi kerajinan bokor, saat ditemui di kediamannya di Desa Sulang, Klungkung, Kamis (12/11/2020).  

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA- Tangan dari Ni Wayan Mariani tampak lihai, merangkai satu per satu kepingan batok kelapa menjadi  bokor maupun dulang, saat ditemui di kediamannya di Banjar Kawan, Desa Sulang, Klungkung, Bali, Kamis (12/11/2020).

Meskipun sepi order di masa pandemi, wanita asal Desa Sulang tersebut tetap bertahan membuat kerajinan dari batok kelapa.

Kerajinan bokor berbagai ukuran terpajang di teras rumah Ni Wayan Mariani.

Dengan teliti ia menghitung bokor berbahan batok kelapa yang baru rampung ia kerjakan.

Baca juga: 11 Orang Terjaring Razia Masker di Padangsambian Kaja Denpasar

Baca juga: Kisah Seorang Tuna Rungu, Rintis Bisnis Pizza Adhi Tuli Monang-Maning hingga Pekerjakan 4 Karyawan

Baca juga: 186 Box Surat Suara Disimpan di Gor Debes, Pelipatan Surat Suara Libatkan 50 Orang

Sudah 3 tahun, kerajinan tersebut menjadi penopang perekonomian keluarga Mariani.

Namun ia tidak menampik, pesanan kerajinan yang ia buat menurun drastis selama pandemi Covid-19

"Selama pandemi ini, order menurun drastis. Saya harus kerja keras memasarkan produk saya ini," ungkap Mariani.

Selama ini ia memasarkan produknya ke sejumlah pasar di Klungkung.

Sebelum pandemi, selama sebulan ia mampu memasarkan sampai 50 biji kerajinan berbahan batok kelapa, seperti bokor dan dulang.

Namun selama masa pandemi, orderannya mulai menurun drastis.

Dalam sebulan bahkan dirinya hanya mampu memasarkan 10 biji kerajinan bokor.

Padahal kerajinan bokor yang ia produksi harganya sangat terjangkau, yakni Rp. 20 ribu yang ukuran kecil dan Rp. 40 ribu untuk yang ukuran besar.

"Semenjak pandemi, penjualan ke pasar menurun. Saya juga mencoba jualan di facebook, itu pun hanya ada satu sampai dua orang yang beli," keluhnya.

Karena penjualan yang menurun, ia pun mulai mengurangi produksi kerajinan batok kelapanya.

Ia selingi dengan mulai membuat dan menjual canang ceper.

Setidaknya dengan kreatifitasnya, Mariani mampu membantu penghasilan keluarga dan mengurangi beban suaminya, Wayan Kariasa yang bekerja sebagai buruh bangunan.

"Meski begitu saya tetap bersyukur, karena usaha saya masih menghasilkan rezeki di saat masa pandemi," pungkasnya. (*).

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved