Serba serbi
Pura Campuhan Windhu Segara, Satu-satunya Pura di Bali yang Tidak Haturkan Daging sebagai Upakara
Sisi unik Pura Campuhan Windhu Segara lainnya, adalah pura ini tidak menghaturkan daging hewan sebagai upakara dalam bebantenan-nya.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Sisi unik Pura Campuhan Windhu Segara lainnya, adalah pura ini tidak menghaturkan daging hewan sebagai upakara dalam bebantenan-nya.
Jro Mangku Ketut Maliarsa, sebagai satu di antara pemangku di sana membenarkan hal itu.
“Biasanya saat piodalan di pura, maka akan menghaturkan bebantenan bebangkit hingga pregembal,” sebutnya kepada Tribun Bali, Kamis (12/11/2020).
Namun uniknya, pura ini tidak membuat bebantenan dengan sarana daging hewan. Karena konsepnya adalah Ahimsa Paro Dharma.
Baca juga: Truk Tronton Seruduk Pedagang Bakso di Bypass Ir Soekarno Tabanan, Nyawa Korban Tak Tertolong
Baca juga: Nunas Tamba, Begini Prosesi dan Upakara Melukat di Pura Campuhan Windhu Segara
Baca juga: Pemkab Klungkung Raih Prestasi Perencanaan Pemda, 2021 Dana Insentif Melonjak Jadi Rp 60 Miliar
“Artinya Tuhan Yang Maha Kuasa akan memberikan karunia yang Maha Kuasa, jika tanpa ada pemakaian daging,” katanya.
Akan tetapi apabila ada pamedek, yang tangkil dan menghaturkan daging ayam di banten-nya itu tidak dipermasalahkan.
Tetapi secara internal, di pura tidak membuat sesajen bebantenan dengan menggunakan daging.
Hanya memakai kacang-saur, bahkan ikan gerang pun tidak. Banten caru yang kerap menggunakan daging, juga hanya menggunakan segehan agung.
Baca juga: WNA asal Nigeria Overstay Lebih dari 60 Hari, Kini Ditempatkan di Rudenim
Baca juga: Laboratorium PCR di RSUD Klungkung Segera Beroperasi, Mampu Uji 94 Sampel Sehari
Baca juga: Sosialisasi Pengawasan Pilkada, Bawaslu juga Beri Edukasi Ketahanan Pangan pada PKK Mengwi
“Saat Siwaratri, biasanya di pura langsung menyolahang calon arang. Dan ketika itu tidak ada penyamblehan atau pemotongan hewan,” tegasnya.
Hanya mengandalkan cecaruan segehan agung saja.
“Dan memang dari awal piodalan di pura, tidak pernah terjadi sesuatu karena tidak menghaturkan daging ini, tidak ngrebeda-lah,” imbuh Jro mangku.
Lanjutnya, calon arang tahun lalu ada 7 bangke matah.
Baca juga: Pemkab Klungkung Raih Prestasi Perencanaan Pemda, 2021 Dana Insentif Melonjak Jadi Rp 60 Miliar
Secara struktural bangunan pura, menurun dari nista, madya, hingga utama mandala.
Padahal sesuai konsep Siwa Sidanta, harusnya konsep pura makin naik.