Ketut Kariyasa Tegaskan Tolak RUU Pelarangan Minuman Beralkohol Sebut Pengusul Sangat Gigih

Ia menilai, RUU ini sangat kontroversial, terlebih DPR RI sebelumnya sudah menghabiskan banyak energi dalam pembahasan UU "Omnibus Law" Cipta Kerja

Tribun Bali/Ragil Armando
Foto I Ketut Kariyasa Adnyana 

Ia berharap, berbagai komponen di DPR RI, terutama wakil masyarakat dari daerah penghasil minuman beralkohol, juga harus bersikap dan menolak adanya RUU Pelarangan Minuman Beralkohol tersebut. 

Kariyasa pun mengajak para DPR untuk mengerjakan berbagai hal yang lebih positif di tengah pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Berbagai hal positif dimaksud seperti pemilihan ekonomi dan sebagainya.

"Jangan lagi membuat hal-hal yang kontroversial seperti ini," ajaknya.

Kariyasa juga mengajak anggota DPR RI Dapil Bali lainnya, termasuk komponen pariwisata, tokoh-tokoh agama juga harus ikut menolak RUU tersebut.

"Jangan sampai dengan adanya hal-hal begini nanti bisa memecah NKRI ini. Karena kita tidak ingin situasi sudah seperti ini (Covid-19), daerah-daerah dalam keadaan kesusahan. Kemudian muncul RUU ini, ini kan akan membahayakan persatuan kita," tegasnya.

Kepentingan Pariwisata dan Budaya

Kariyasa menuturkan, keberadaan minuman beralkohol tidak serta merta bisa dilarang, terutama bagi daerah-daerah yang bergantung dengan pariwisata.

Terlebih jika daerah pariwisata tersebut, seperti Bali, lebih banyak mengandalkan wisatawan mancanegara yang mempunyai budaya minum minuman beralkohol.

Melalui alasan itu pula, pariwisata Bali menyediakan berbagai minuman beralkohol di berbagai tempat seperti club, bar dan berbagai hotel.

"Tentu kita tidak ingin Indonesia dan Bali ini menjadi negara tertutup," kata Sekretaris Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Bali itu.

Saat ini perekonomian Bali sedang mengalami keterpurukan paling dalam dan minus hingga dua digit pada kuartal II 2020.

Namun nantinya, setelah ditemukan vaksin dan kehidupan berjalan normal, sektor pariwisata Bali diharapkan pariwisata hidup kembali.

Apalagi, hampir sebanyak 80 persen masyarakat di Pulau Dewata hidupnya bergantung dari keberadaan sektor pariwisata.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved