Breaking News:

Cuaca di Bali Terasa Sangat Panas & Bikin Gerah Beberapa Hari Terakhir, Ini Penjelasan BMKG Denpasar

Beberapa hari terakhir, suhu udara di sejumlah wilayah di Bali terasa sangat panas dan gerah. Begini penjelasan BMKG Denpasar.

Tribunnews
ilutrasi panas 

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Beberapa hari terakhir, suhu udara di sejumlah wilayah di Bali terasa sangat panas dan gerah.

Tak hanya ketika siang hari, tetapi juga saat malam hari.

"Gerah sekali. Saya baru selesai mandi, langsung berkeringat lagi. Kemarin sempat cek di HP, suhu malam hari sampai 30 derajat. Mau nggak mau, kipas angin nyala terus," kata Gede Diana Putra, warga Kuta Selatan, Badung, Sabtu (14/11/2020).

Mengapa udara di Bali terasa sangat panas beberapa hari terakhir ini?

Benarkah ada gelombang panas yang sedang melanda Indonesia?

Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar membantah adanya isu gelombang panas yang sedang melanda Indonesia dan khususnya Bali.

Gelombang panas dalam ilmu klimatologi didefinisikan sebagai periode cuaca (suhu) panas yang tidak biasa yang biasanya berlangsung setidaknya lima hari berturut-turut atau lebih (sesuai batasan Badan Meteorologi Dunia atau WMO) disertai oleh kelembapan udara yang tinggi.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Data dan Informasi Iman Faturahman saat dikonfirmasi Tribun Bali, Sabtu (14/11/2020) malam.

"Beredar pesan berantai melalu media sosial bahwa gelombang panas kini melanda negara Indonesia, khususnya di Bali, yang disebutkan bahwa kini cuaca sangat panas. Suhu pada siang hari bisa mencapai 40 derajat celcius, dianjurkan untuk menghindari minum es atau air dingin. Berita yang beredar ini tentu tidak tepat, karena kondisi suhu panas dan terik saat ini tidak bisa dikatakan sebagai gelombang panas," kata Iman

Iman menjelaskan, untuk dianggap sebagai gelombang panas, suatu lokasi harus mencatat suhu maksimum harian melebihi ambang batas statistik, misalnya 5 derajat celcius lebih panas, dari rata-rata klimatologis suhu maksimum, dan setidaknya telah berlangsung dalam lima hari berturut-turut. 

"Apabila suhu maksimum tersebut terjadi dalam rentang rata-ratanya dan tidak berlangsung lama maka tidak dikatakan sebagai gelombang panas," jelas dia.

Baca juga: Terkait RUU Larangan Minuman Beralkohol, Koster: Nggak Akan Jadi Itu

Lebih lanjut, Iman menyampaikan, gelombang panas umumnya terjadi berkaitan dengan berkembanganya pola cuaca sistem tekanan atmosfer tinggi di suatu area secara persisten dalam beberapa hari. 

Dalam sistem tekanan tinggi tersebut, terjadi pergerakan udara dari atmosfer bagian atas menuju permukaan (subsidensi) sehingga termampatkan dan suhunya  meningkat. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved