Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

NTP di Bawah 100, Kondisi Pertanian Bali Sudah 'Lampu Merah'

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat, Nilai Tukar Petani (NTP) di Pulau Dewata indeks-nya sudah berada di bawah 100

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
kompas.com
Foto ilustrasi pertanian 

Banyak yang mengeluh bahwa nilai produk sektor pertanian saat ini sangat anjlok karena sektor pariwisata di Bali yang macet total.

Hal itu mengindikasikan bahwa sektor pertanian sangat tergantung dari sektor pariwisata.

Tak hanya pertanian, bahkan semua sektor di Bali sangat tergantung dari sektor pariwisata.

Oleh karena itu, kalau sektor pariwisata sedang sakit flu, maka sektor lainnya paling tidak akan menderita batuk-batuk.

"Sektor pariwisata diposisikan sebagai lokomotif bagi sektor ekonomi di Bali. Tapi sayang, lokomotifnya ternyata sangat renyah. Sedikit saja “terkontaminasi”, maka lokomotifnya sudah ngambek," kata Windia.

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Stispol) Wira Bhakti, Denpasar ini menilai, renyahnya lokomotif perekonomian di Bali karena pejabat yang terlalu suka dan silau dengan hal-hal yang glamor.

Mereka terlalu ingin kerja ringan, cepat dan santai, tetapi hasil Pendapatan Asli Daerah (PAD) diharapkan besar.

Windia memaparkan, bahaya yang terjadi seperti saat ini sebenarnya sudah diwacanakan oleh para ahli sejak tahun 2000.

Tatkala sumbangan sektor tersier (pariwisata) di Bali melompat menjadi 67 persen dan sektor primer (pertanian) merosot menjadi 19 persen.

"Tetapi sama sekali para pejabat kita tidak ada yang hirau. Mereka sudah ke-enak-an berada dalam zona nyaman. Tetapi memang demikianlah watak kaum pejabat kita di seluruh dunia," tuturnya.

Bagi Windia, pejabat pada umumnya tidak suka membangun sektor pertanian karena manusianya banyak, tabiatnya macam-macam, miskin, hasilnya tidak segera dapat terlihat, dan sebagainya.

Sedangkan jangka waktu kepemimpinan publik hanya sekitar  5 sampai 10 tahun.

Oleh karena itu, Windia menilai, apapun yang terjadi dan pernyataan yang dibuat oleh para ahli, tetap saja para pejabat publik umumnya tidak akan bergeming.

Mereka lebih suka membangun sektor non pertanian yang menimbulkan citra yang cepat meroket agar dipilih lagi dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Sebetulnya, berbagai usaha sudah dilakukan oleh sang pejabat untuk mendekatkan sektor pertanian dan sektor pariwisata di Bali.

Tetapi sama sekali tidak berhasil mencapai tujuannya, yakni untuk mendukung kehidupan petani kita.

Hal itu dikarenakan memang tidak gampang melawan kapitalis yang hampir memiliki segalanya, seperti uang, jaringan, kekuasaan dan argumentasi.

Menurut Windia, untuk melawan para kapitalis tersebut diperlukan komitmen untuk membantu mensejahterakan petani dan sektor pertanian. (*).

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved