Warga Tebongkang Ubud Gotong Royong Urus Ternak Babi, Pemiliknya Masih Jalani Karantina Covid-19

ternak warga secara gotong-royong urus ternak babi milik warga Tebongkang yang sedang jalani karantina Covid-19.

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Dinas Kesehatan Gianyar menggelar tes swab di Banjar Tebongkang, Desa Singakerta, Ubud, Jumat (13/11/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Warga Tebongkang Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali  kini bergotong royong urus ternak babi, sebab para pemiliknya masih menjalani karantina Covid-19.

Banjar Tebongkang selama ini memang dikenal sebagai banjar yang sebagian besar warganya adalah pe ternak babi.

Bahkan untuk mengindari pencemaran lingkungan dan bau kotoran babi tak merusak udara di lingkungan banjar, mereka membuat sentralisasi kandang babi di pojokan banjar atau warga menyebutkan Tegal Sari.

Kini, banjar ini telah menjadi klaster covid-19, dan puluhan warga pun tengah menjalani karantina setelah hasil swab mereka positif covid-19.

Meskipun saat ini tidak bisa memberi pakan ternak babinya, mereka tidak perlu takut ternaknya mati kelaparan.

Sebab, ternak mereka dirawat secara gotong-royong oleh warga Tebongkang yang negatif covid-19. 

Baca juga: Bertambah 4 Orang Positif di Tebongkang, Dinkes Gianyar Target Tes Swab Massal 640 Warga

"Ternak warga yang saat ini menjalai karantina, dipelihara secara gotong-royong oleh krama banjar. Kebetulan, untuk pakan ternak, sebelum ada yang kena (covid-19), sudah biasa menaruh bahan pakan ternak di kandang, jadi tidak perlu mencari lagi," ujar seorang warga Tebongkang yang tengah duduk-duduk bersama warga lainnya di pintu masuk Banjar Tebongkang, Minggu (15/11/2020).

Warga mengatakan, jumlah babi yang dipelihara secara gotong-royong ini tidak lebih dari 20 ekor.

Menurut mereka jumlah ini relatif sedikit. Sebab kebanyakan babi telah mati saat wabah misterius melanda Bali di awal tahun 2020.

"Jumlah sekitar 20an, ini sedikit karena kemarin banyak yang mati," ujar warga yang enggan ditulis namanya. 

Pantauan Tribun Bali, setelah banjar ini dikatakan sebagai klaster covid-19, situasi banjar relatif sepi.

Meski kendaraan yang masuk juga jarang, situasi banjar tidak mencekam.

Bahkan warga yang duduk-duduk di pintu masuk banjar pun masih bisa tertawa-tawa, dan ngobrol santai satu sama lainnya.

"Tidak ada yang perlu ditakuti berlebihan. Sekarang saja yang dikarantina, mereka masih bisa makan enak," ujar mereka. 

Baca juga: Warga Tebongkang Ubud yang Terinfeksi Covid-19 Bertambah Lagi, Ratusan Warga Akan Di-swab

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved