Breaking News:

Kisah Magis Tari Rejang Sutri di Desa Batuan Gianyar, Diyakini Terkait Ratu Gede Mas Mecaling

Tari Rejang Sutri dipentaskan selalu pada Soma Kliwon Klurut, Kajeng Kliwon Enyitan Sasih Kalima di wantilan Pura Desa lan Puseh Desa Adat Batuan.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Widyartha Suryawan
Tribun Bali/A A Seri Kusniarti
Tari Rejang Sutri dipentaskan selalu pada Soma Kliwon Klurut, rahina Kajeng Kliwon Enyitan Sasih Kalima oleh masyarakat serempat. Pementasan ini berlangsung setiap malam di wantilan Pura Desa lan Puseh Desa Adat Batuan sampai berakhirnya Sasih Kesanga. Atau saat hari suci Nyepi. 

"Masyarakat Batuan, lalu menangkal atau mengantisipasi ancaman I Gede Mecaling lewat kesenian," ujarnya.

Krama desa lanang (pria) setiap sore berkumpul menggelar gocekan. Gocekan ini, jelas dia, adalah adu ayam kecil-kecil dan harus diadakan sesuai bhisama di sana.

Jadi bukan judi, karena diyakini rencang-rencangnya Gede Mecaling klangen dan terhibur dengan aksi adu ayam itu, sehingga melupakan emosinya untuk berbuat onar. 

Sementara krama istri (perempuan), menghilangkan rasa cemasnya dengan menari. Yaitu adalah mereka menari Rejang Sutri. Membuat semua masyarakat, menari dengan gembira dan perasaan tenang serta senang.

Para perempuan akhirnya menari mengikuti irama, dengan gerak tari halus, lemah lembut layaknya rejang pada umumnya.

Sampai saat ini, masyarakat Desa Batuan yakin ketika tari Rejang Sutri dipentaskan, maka I Gede Mecaling yang hendak datang meresahkan masyarakat akan mengurungkan niatnya tersebut.

Karena sudah terpesona dengan adanya tarian ini.

Kemudian yang dipuja saat menari, yakni Sang Hyang Dedari. Sehingga setiap perempuan yang menari Rejang Sutri, ketika dilihat oleh rencang-rencangnya I Gede Mecaling seperti bidadari yang menari.

Ini juga yang membuat dendam I Gede Mecaling luluh. Zaman dahulu, kata dia, pementasan Rejang Sutri digelar sampai subuh.

Karena diyakini, rencang-rencangnya I Gede Mecaling akan pergi saat ayam berkokok pertanda hari telah pagi.

Sejak saat itulah, Gocekan dan Rejang Sutri digelar setiap hari selama sasih gering.

Seiring perkembangan zaman, meski telah mengalami perkembangan, pementasan tetap digelar sesuai pakem dan sama sekali tidak berani ditiadakan.

“Yang membedakan hanya kedatangan krama untuk ngayah Gocekan maupun Rejang Sutri. Untuk mempertahankan tradisi ini, krama ngayah dilakukan dengan sistem giliran. Per hari, biasanya sekitar 50 krama istri," jelasnya.

Penari pun bisa dari PKK, remaja, ataupun anak-anak.

Baca juga: Nora Alexandra & Simpatisan Jerinx Gelar Persembahyangan di Pura Sakenan, Tampak Pula Ibunda Jerinx

Pada rerainan tertentu, seperti Kajeng Kliwon, Purnama, Tilem dan lainnya Rejang Sutri digelar lebih meriah. Yakni para krama istri berhias.

Biasanya, anak-anak perempuan tertarik ikut ngayah Rejang Sutri saat mepayas. Sehingga sebagai hadiah sekaligus motivasi, Desa Adat Batuan memberikan alat tulis berupa buku, pensil dan pulpen.

Tradisi ini mesineb atau berakhir, ditandai dengan pementasan terakhir setiap Ngembak Geni atau sehari setelah Hari Suci Nyepi.

I Made Djabur juga menjelaskan, Rejang Sutri ini diyakini sebagai penetralisir sasih gering yang ditandai dengan berjangkitnya berbagai macam penyakit.

"Meskipun sekarang musim Covid-19, tradisi sakral Rejang Sutri tetap dilaksanakan. Kami di Desa Adat Batuan tidak berani meniadakan. Dengan catatan, protokol kesehatan tetap dijalankan, diantaranya wajib masker, jaga jarak, dan cuci tangan. Waktu menari jaga jarak. Kami tetap ikuti imbauan pemerintah terkait prokes," tegasnya. (aa seri kusniarti)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved