Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Dampak OTT Edhy Prabowo, Eksportir Benih Bening Lobster di Bali Disetop

Buntut ditangkapnya eks Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Edhy Prabowo yang terseret Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan

Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
Packing house PT. Alam Laut Agung tampak kosong sejak masa pandemi covid-19 di Denpasar, Bali, proses pengiriman langsung dari nelayan ke Jakarta. 

PT. Alam Laut Agung melakukan ekspor BBL ke negara Vietnam setiap hari Selasa hingga hari Minggu.

"Kita tidak terlalu banyak untuk ekspor, proses ekspor waktunya 2-3 hari kalau berubah warna harga turun 30 persen karena kita harus kirim dulu ke Cengkareng (Jakarta) mengurus kargo, pengepakan, izin dan sebagainya, ini menjadi kendala kita karena penerbangan di Bali juga belum buka, selain itu karena perbedaan antara harga di nelayan dan persaingan dengan eksportir yang lain juga ketat," ujarnya.

Dijelaskan dia, pada medio bulan November hingga Maret biasanya permintaan dari Vietnam sedang menurun sehingga mempengaruhi harga pada benih bening lobster di nelayan.

Sementara permintaan akan meningkat pada bulan April hingga Oktober.

"Kalau harga variatif, kalau lagi permintaan menurun bulan November sampai Maret, misal Rp 8 -10 ribu per ekor, diangka itu kita lepas Rp 13 ribu karena ada biaya PNPB Rp 1.000, Kargo Rp. 1.800 dan ongkos transport operasional Rp 200 total sekitar Rp 3 ribu per ekornya, sampai di Vietnam dihargai Rp 13.500,- jadi keuntungannya tipis, belum lagi kalau berubah warna turun 30 persen, kita sengaja tidak mau beli banyak, takut rugi, saat Typhoon saja kita merugi Rp 700 juta sampai Rp 1,3 Miliar," ujarnya.

Di samping itu, menurut dia yang harus ditingkatkan di Indonesia adalah proses budidaya yang belum maksimal hingga minimnya ketersediaan akses pakan lobster yang berupa oyster, ruca-ruca, kerang dan kepiting.

Sebagai pelaku ekspor, Alit Sukantara menjelaskan, bahwa tata kelola dan etos kerja negara Vietnam selama 15 tahun membangun budidaya benih bening lobster perlu ditiru Negara Republik Indonesia.

Vietnam juga memiliki tempat budidaya yang terintegrasi satu dengan lainnya digarap secara padat karya sehingga maintenance, salah satunya pada alur pakan dapat dilakukan dengan maksimal dan fresh serta mendapat dukungan penuh dari pemerintah Vietnam.

Budidaya di Vietnam membutuhkan waktu selama satu tahun untuk proses budidaya benih lobster hingga berukuran besar.

"Kita akui vietnam budidayanya paling bagus, kita harus belajar dari sana, Indonesia memiliki kekayaan laut yang harus dioptimalkan untuk bangsa melalui Kelompok-Kelompok Usaha Bersama (KUB), negara kita kaya tapi belum mampu mengelolanya," sebutnya.

Apalagi di tengah masa sulit pandemi Covid-19, nelayan harus dibangkitkan akan potensi bisnis dari benih bening lobster ini dengan cara edukasi proses pembudidayaan yang benar.

"Sampai saat ini hasilnya belum maksimal, perlu dukungan pemerintah bagaimana kesejahteraan masyarakat khususnya nelayan, serta ekosistem ini dapat berjalan seimbang dan optimal di Indonesia, saya yakin Indonesia bisa, hanya memerlukan waktu," kata dia.

Sejak terpilih dalam bursa legalitas ekspor, PT. Alam Laut Agung terus berupaya menggandeng para nelayan di daerah untuk memiliki kompetensi-kompetensi andal dalam proses budidaya lobster

Pihaknya juga menjalin kerja sama dengan 16 nelayan di Jawa untuk memberikan edukasi cara penangkapan dan budidaya BBL bagi nelayan di Bali, yang umumnya merupakan nelayan pariwisata.

Dengan menggandeng nelayan yang telah berhasil membudidayakan lobster di Jawa, pihaknya rutin memberikan pelatihan-pelatihan para nelayan di Bali dan Lombok hingga kegiatan-kegiatan pelepasliaran BBL di perairan Negara Republik Indonesia.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved