Kritik Keras Dana Hibah Pariwisata, Prof Windia: Mana Hibah bagi Sektor Pertanian?
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud), I Wayan Windia mempertanyakan pemberian dana hibah terhadap sektor pariwisata tersebut.
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Widyartha Suryawan
Meskipun per unit kapital yang diinvestasikan dan penyerapan tenaga kerjanya di sektor pariwisata lebih kecil dibandingkan dengan sektor industri dan pertanian.
Sementara itu, organisasi yang berkait dengan pertanian, seperti Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Himpinan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) dan sebagainya, seharusnya berbicara keras.
Tetapi suara seperti itu, kata Windia, nyaris tak terdengar karena pimpinannya mungkin saja masuk dalam jajaran birokrasi.
"Bagi saya, dalam kasus seperti ini layaknya sebuah komedi bagi sektor pariwisata dan tragedi bagi kalangan sektor pertanian. Saya tertawa, karena kok juari ya sektor pariwisata memperjuangkan hibah seperti itu dalam suasana negara yang prihatin seperti ini," jelas Windia.
"Dahulu sektor ini (pariwisata) diagung-agungkan sebagai lokomotif ekonomi, lalu semua orang mendewa-dewakan sebagai sektor harapan. Lalu, apa yang terjadi sekarang? Harapannya justru ada pada sektor pertanian," kata dia.
Windia pun mengaku kasihan pada sektor pertanian yang secara terus menerus mengalami tragedi.
Ketika sektor pariwisata mengalami zaman gemilang, sektor pertanian-pun mengalami tragedi karena produk sektor pertanian dibon hingga beberapa bulan.
Kondisi ini mengakibatkan petani menjadi semakin jatuh miskin, sedangkan "sang kapitalis" di sektor pariwisata tetap menjadi semakin kaya.
Menurut Windia, Gubernur Bali sampai mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 99 tahun 2018 tentang pemasaran dan pemanfaatan produk pertanian, perikanan dan industri lokal Bali untuk menolong petani yang berada dalam kondisi sangat prihatin tersebut.
Tetapi nyatanya, Pergub yang mewajibkan hotel, restoran dan katering untuk memakai produk pertanian, perikanan dan industri lokal Bali ini tetap tidak bisa membantu petani.
"Memang tidak gampang melawan kapitalis. Sekali mereka mencengkram ekonomi kita, maka selamanya mereka tidak akan bergeming. Kecuali 'daerah kekuasaannya' sudah hancur lebur menjadi debu," papar Windia.
Ia menuturkan, sektor pariwisata di Bali semakin menjulang dan sektor pertanian semakin mengecil.
Bahkan saat ini sumbangan sektor pertanian terhadap ekonomi Bali masih hanya 13 persen.
Sedangkan yang bekerja di sektor ini 35 persen dan nilai tukar pertani (NTP) sektor pertanian di Bali di bawah 100 persen.
"Apakah ini artinya? Artinya adalah pertumbuhan sektor pariwisata di Bali, adalah lokomotif bagi sektor pertanian di luar Bali bahkan di luar negeri. Bukan lokomotof bagi pertumbuhan sektor pertanian di Bali. Jadi, ada yang salah dalam pengelolaan sektor pariwisata di Bali," tegasnya.
"Kalau sekarang kita memberikan hibah bagi sektor pariwisata di Bali, itu artinya akan membantu pertumbuhan sektor pertanian di luar Bali," pinta Windia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/jelang-festival-petani-tampak-menggarap-sawahnya_20180907_143206.jpg)