Serba Serbi

Mistis, Kisah Air Terjun Dedari Hingga Cerita Griya Jro Mekel

Bangli, satu diantara kabupaten di Pulau Bali yang memiliki segudang cerita dan kisah mistis di dalamnya

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Pancoran Dedari di Air Terjun Dedari, Jelekungkang, Taman Bali, Bangli. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Bangli, satu diantara kabupaten di Pulau Bali yang memiliki segudang cerita dan kisah mistis di dalamnya.

Bahkan pemandangan alam, dan destinasi wisata di Bangli pun terbilang cukup banyak serta lengkap.

Ada gunung, sungai, atraksi wisata buatan, kebun kopi dan jeruk, air terjun, dan destinasi wisata lainnya.

Satu diantaranya adalah air terjun dedari di wilayah Jelekungkang, Taman Bali, Bangli.

Baca juga: ASITA Minta Bantuan DPRD Bali Jembatani Pinjaman Lunak ke BPD Bali

Baca juga: Vivo Y51 Mulai Dijual di Indonesia, Program Super Selling Day, Ini Bonus dan Spesifikasinya

Baca juga: Ini Besaran Gaji PNS yang Mau Dirombak Pemerintah, Lengkap dengan Formulasi Tunjangannya

Satu diantara warga, Budiarta Tandjung, menceritakan bahwa di destinasi wisata air terjun Dedari ini ada kisah menarik.

“Disebut namanya Dedari karena ada pancoran, yang airnya dari mata air klebutan. Dan tetua zaman dahulu kerap melihat ada bidadari yang mandi di sana,” jelasnya kepada Tribun Bali, Selasa (8/12/2020).

Namun seiring perkembangan zaman, jarang yang melihat adanya dedari di sana.

Sehingga dipilihlah nama air terjun Dedari, ketika destinasi wisata ini dibuka untuk umum.

Budi, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa ada kisah mistis dari seorang pengunjung asal Denpasar.

Turis lokal ini, bahkan rutin datang ke air terjun yang cukup jauh dari wilayahnya itu.

Ia datang hampir setiap minggu.

“Pengunjung itu melihat adanya kerlap-kerlip mutiara di sana (air terjun),” imbuhnya.

Ia menjelaskan, kerlap-kerlip ini dilihat secara gaib, karena tidak semua orang bisa melihat dengan kasat mata.

Hal ini kemudian dikaitkan dengan adanya hubungan antara griya gaib yang terletak di air terjun.

“Memang aliran air terjun ini, ada hubungannya dengan griya Jro Mekel,” katanya.

Jro Mekel, kata dia, adalah seorang suci atau pemangku pada zaman dahulu yang akhirnya moksa di sana.

Sehingga karena kesuciannya itu, akhirnya setelah moksa beliau dijadikan sesuhunan dan disucikan oleh warga sekitar, khususnya warga wilayah Jelekungkang.

“Letak griya itu di balik air terjun utama, di wilayah Bangkiang Jaran,” sebutnya.

Perlu diketahui, bahwa di air terjun Dedari ada dua air terjun yakni di atas berisi kolam dan di bawah di dekat Tukad Melangit.

Budi melanjutkan, walaupun pengunjung dari Denpasar itu kerap melihat kerlap-kerlip mutiara.

Namun ia belum pernah mendapatkan pica (pemberian/anugerah) dari lokasi ini.

“Bahkan kadang ada juga yang melihat wanita mandi di sana,” imbuhnya.

Turis yang datang pun senang melukat, berenang, dan mandi di sana.

Khususnya membasuh diri di pancoran Dedari.

Klebutan sumber mata air pancoran ini datang dari bebatuan di bawah tanah.

Jika pengunjung datang ke destinasi ini, maka sebelum air terjun utama yang berisi kolam.

Maka di sebelah kirinya akan terlihat pancoran Dedari, dengan air bersih, dingin, dan sebening kristal.

“Pengunjung yang dari Denpasar itu, mengaku mendapatkan ketenangan dan kesegaran saat datang ke sini. Makanya dia rutin ke sini,”katanya.

Sementara itu, ihwal kisah griya Jro Mekel adalah griya gaib yang juga tidak bisa dilihat sembarang orang.

Karena suci, kini beliau menjadi sesuhunan di Pura Petapan.

Untuk menemukan lokasi pura ini, haruslah melewati pemukiman warga dan semak belukar.

Letaknya di utara tepat di atas air terjun.

“Tepatnya di ujung pemukiman warga, ada semak belukar lalu masuk ke sana,” jelasnya.

Pura itu adalah tempat lokasi Jro Mekel moksa.

“Nah bagi yang bisa melihat di sana ada griya beliau,” tegasnya.

Warga pun memuja beliau, sebagai satu diantara pelindung dan penjaga wilayah Jelekungkang.

Ada tapakannya di sana, di Pura Petapan dan mangkunya pun ada.

Banyak warga lokal, dan bahkan warga dari berbagai penjuru Bali datang ke pura ini.

Meminta tamba kesembuhan, baik dari penyakit magic and non magic.

Ada pula yang nunas baos ke pemangkunya.

“Kebetulan rumah pemangkunya dekat,” imbuhnya.

Pamedek yang mau datang, bisa membawa pejati seperti biasa dengan canang sari.

Tidak ada batasan, setiap hari pun pamedek bisa datang.

Beruntung sejauh ini, kata dia, banyak yang doanya dikabulkan setelah datang ke Pura Petapan ini.

Termasuk warga juga memohon ketika ada pertunjukan calon arang, yang menggunakan bangke matah agar diberikan perlindungan.

Menurut Budi, dari ceritera para tetua di sana beliau (Jro Mekel), memiliki 200 rencang (pasukan) yang tidak terlihat.

Dahulu beliau memiliki istri bernama Jro Nini, kedua patung pelinggihnya berada diantara jembatan masuk menuju wilayah Taman Bali.

“Kadang juga ada pasangan calon datang ke sini, meminta restu untuk tangkil ke pura. Meminta agar ditunjukkan jalan,” jelasnya.

Sehingga selain warga biasa, banyak pejabat juga datang ke pura ini.

Pura ini disungsung oleh krama Desa Adat Jelekungkang, Desa Taman Bali, Bangli.

Sementara itu, karena masuknya musim kering maka sejak Desember 2019 hingga saat ini air terjun di destinasi sedang surut.

Ia menjelaskan, memang datangnya air tergantung dari kondisi alam.

Bahkan kekeringan ini terjadi, juga pada sawah di wilayah atas air terjun tersebut.

Subak pun beralih dari menanam padi menjadi menanam ubi, kacang tanah, hingga jagung.

Sementara itu, air terjun di bawah, yang sumber airnya dari Nyalian, Klungkung, masih berisi air karena sumbernya masih melimpah.

Tamu yang datang bisa memberikan donasi sukarela untuk membangun dan mengembangkan fasilitas di air terjun Dedari ini.

Fasilitasnya lengkap ada toilet, dan lain sebagainya. (*).

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved