Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Benarkah Perokok Dapat Beresiko Timbulkan Gejala Berat Pada Covid-19 ? Begini Penjelasannya

Merokok merupakan salah satu faktor utama dari penyebabnya penyakit jantung koroner, diabetes melitus, dan Kanker. 

Tayang:
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay
Foto ilustrasi rokok di asbak 

Laporan Wartawan, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Jumlah perokok aktif pada dewasa ini mulai meningkat.

Bahkan di tengah pandemi Covid-19, orang-orang yang terbiasa merokok tetap melakukan kebiasaan tersebut. 

Lalu, apakah dengan merokok dapat meningkatkan risiko penyebab terinfeksi virus Covid-19?

dr. I Wayan Gede Artawan Eka Putra, M.Epid selaku Koordinator Riset dan Publikasi Udayana CENTRAL berikan penjelasan terkait hal tersebut. 

Baca juga: Unggahan Terakhir Melisha Sidabutar, Peserta Indonesian Idol 2020 yang Meninggal karena Sakit

Baca juga: Pilkada Serentak Berlangsung di Tengah Pandemi, Ini Pesan Danrem 163/Wira Satya 

Baca juga: Buda Wage Menail, Saatnya Kendalikan Nafsu, Ini Persembahan yang Dihaturkan

Memang terdapat hubungan antara Covid-19 dengan perilaku merokok.

Merokok memang merupakan salah satu faktor utama dari penyebabnya penyakit jantung koroner, diabetes melitus, dan kanker. 

"Sementara ini kami sedang menyusun strategi dengan nama MPOWER, tentang pentingnya perlindungan terhadap asap rokok, kemudian juga dukungan untuk berhenti merokok, dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya rokok itu sendiri," ungkapnya, Rabu (9/12/2020). 

dr. Artawan mengatakan, jika orang perokok terkena virus Covid-19, maka merokok ini merupakan risiko gejala berat dari penyakit virus Covid-19.

Hal tersebut dimulai dengan data mengapa penderita Covid-19 di dominasi pada laki-laki dan tidak pada perempuan. 

"Dan ternyata setelah ditelusuri dari sebanyak 100 laki-laki, 67 orang diantaranya merokok. Sedangkan pada perempuan sendiri dari 100 perempuan yang dilakukan pendataan hanya 2 orang saja yang merokok," tambahnya. 

Hal tersebutlah yang menunjukkan bahwa merokok dapat meningkatkan faktor resiko untuk terinfeksi virus Covid-19.

Sedangkan pada ilmu kedokteran mengapa merokok lebih berisiko untuk pasien Covid-19 dikarenakan pada reseptor atau yang ada di dalam tubuh sebagai penerima virus pada tubuh kita. 

"Jadi virus dapat masuk dikarenakan terdapat reseptor di dalam tubuh kita. Termasuk juga pada kasus penyakit HIV AIDS yang terdapat juga reseptor yaitu pada organ kelamin," terangnya. 

Dan di paru-paru sendiri pun juga terdapat reseptor yang dinamakan ACE2.

Ternyata reseptor yang ada dalam paru-paru tersebut pada perokok jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak merokok.

Hal tersebut dikarenakan terdapat banyak radikal bebas yang tersebar di paru-paru dalam waktu yang lama.

Yang akhirnya menyebabkan radang hingga menambah jumlah dari reseptor tersebut. 

Dikarenakan jumlah dari reseptor atau penerima cukup banyak maka dengan jumlah virus yang sedikit terhirup akan ditangkap langsung oleh reseptor ini dan menyebabkan virus di dalam tubuh dapat berkembang biak. 

"Selain itu terdapat penurunan dari sistem imun yang ada di dalam saluran pernafasan. Jadi di dalam saluran pernafasan kita terdapat sistem pertahanan tubuh yang berada di sekitar rongga pernafasan. dan dikarenakan proses peradangan pada paru-paru yang disebabkan oleh asap rokok berlangsung cukup lama sebelumnya dan sistem kekebalan tubuh yang menolak virus untuk masuk ini berkurang," jelasnya. 

Hal tersebutlah yang mengakibatkan virus yang sudah masuk ke dalam tubuh susah untuk dikeluarkan lagi.

Bahkan ketika kita sedang bersin pun itu termasuk dalam mekanisme pertahanan tubuh.

Salah satu contoh sederhananya adalah ketika kita tidak terbiasa merokok lalu diberikan rokok satu batang saja, maka kita akan merasakan batuk-batuk hingga bersin nah itulah yang dimaksud mekanisme tubuh menolak dari asap rokok tersebut. 

"Namun ketika kita sudah terbiasa merokok maka mekanisme sistem kekebalan pernapasan tersebut akan berkurang. Begitu juga dengan ketika respon tubuh tersebut sudah berkurang, ketika benda asing masuk ke tubuh daya tolak tubuh akan berkurang. Sehingga akan terakumulasi pada saluran pernafasan dan mempermudah terjadinya infeksi," tuturnya. 

Selain itu, orang yang merokok cenderung menyentuh area yang ada pada wajah seperti mulut, hidung, dan mata sehingga memudahkan infeksi masuk melalui kontak tangan.

Dan orang yang merokok lebih sering membuka maskernya.

Seperti biasanya saat mengobrol sambil merokok Ia membuka maskernya.

Hal-hal tersebutlah yang dapat meningkatkan penularan secara langsung melalui sistem pernapasan. 

Dan penyebab yang terakhir merokok merupakan faktor risiko penyebab penyakit tidak menular seperti jantung koroner, hipertensi, diabetes dan kanker.

Dimana semua penyakit-penyakit tersebut dapat menurunkan sistem kekebalan dari tubuh.

Maka dari itu hal tersebutlah yang membuat merokok dapat mempermudah terkena infeksi virus Covid-19

Dan juga dapat terkena gejala resiko yang lebih tinggi, yang dikarenakan terdapat penyakit penyerta seperti diabetes, kanker, hipertensi dan jantung koroner.

Namun orang yang terinfeksi Covid-19 biasanya lebih dominan memiliki penyakit penyerta seperti diabetes melitus. 

"Dan hal tersebut sudah dilakukan penelitian terhadap orang yang memiliki penyakit diabetes melitus lalu terinfeksi Covid-19 kerusakan pada paru-parunya jauh lebih masif. Begitu juga pada penyakit stroke, hipertensi, jantung koroner, dan kanker, karena menurunkan daya tahan tubuh," lanjutnya. 

Memang tantangan kedepannya semakin berat, hal tersebut dikarenakan intervensi dari industri rokok yang semakin gencar dikarenakan ingin meningkatkan penjualannya.

dr. Artawan mengatakan, justru pada pandemi Covid-19 lah momen yang pas untuk menghentikan kebiasaan merokok dikarenakan faktor-faktor tersebut. (*).

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved