Kisah Cok Ace tentang Ratu Gede Gombrang, Sesuhunan Celuluk di Ubud yang Pernah Dibawa Orang Kanada
Ratu Gede Gombrang, sebuah topeng celuluk yang kini berada di Puri Saren Kauh, Ubud, Gianyar, Bali memiliki kisah magis. Begini kisah Cok Ace.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Widyartha Suryawan
Dirawat di Puri Saren Kauh sampai sekarang, dengan bebantenan seperti saiban dan canang.
“Sampai sekarang menjadi sungsungan puri bahkan Desa Ubud dan sangat dihormati,” imbuhnya.
Terbukti ketika upacara di pura manapun di Ubud, baik itu Pura Kahyangan Tiga dan sebagainya pasti tedun dan masolah.
“Biasanya kalau ada odalan di pura pasti tedun, bahkan di luar desa adat juga ida tedun. Masyarakat meminta ida turun, karena banyak yang melihat beliau masolah secara niskala,” imbuhnya.
Terakhir ketika beliau masolah di suatu desa di dekat Tegalalang bunga masnya tertinggal di dekat sana.
“Kebetulan pemangku pura di wilayah Bresela itu ikut menghias beliau sebelum masolah, lalu bunganya emasnya tertinggal,” katanya.
Setelah itu, Cok Ace kerap mengecek rambut beliau ketika malam hari. Dan benar saja, rambutnya tidak pernah rapi dan kerap kotor.
“Saya pikir pasti ida kembali jalan-jalan,” katanya.
Masyarakat Ubud yang tahu, memang kerap mendapati ida berkeliling. Dan tahu sekali tentang keunikan sesuhunan ini. Karena kerap keluar sendiri berkeliling Ubud.
Cok Ace secara pribadi, mengaku tidak pernah mundut atau memakai topeng celuluk ini.
Pemundut terakhir topeng ini, sudah tiada dan merupakan seorang pemangku yang sangat lingsir atau tua.
Ia menceritakan, walau usianya sudah renta namun ketika mundut seakan-akan ada aura mistis dan kekuatan gaib yang membuatnya bisa berlari kesana-kemari.
“Makanya ketika ida (topeng celuluk) menari calonarang pasti banyak yang ingin melihatnya,” jelas Cok Ace.
Ada masa di mana ketika topeng ini menari, dan dipakai oleh pemangku saat calon arang akan mencari orang yang dianggap sakti.
Sehingga pernah suatu waktu, akhirnya di Ubud saling curiga satu sama lain.