Kisah Cok Ace tentang Ratu Gede Gombrang, Sesuhunan Celuluk di Ubud yang Pernah Dibawa Orang Kanada

Ratu Gede Gombrang, sebuah topeng celuluk yang kini berada di Puri Saren Kauh, Ubud, Gianyar, Bali memiliki kisah magis. Begini kisah Cok Ace.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Widyartha Suryawan
Istimewa/FB Cok Ace
Ilustrasi - Cok Ace saat memegang sebuah tapel. 

“Karena saya merasa dekat dengan beliau secara psikologis. Saya meminta beliau agar tidak menyebut dan mencari orang-orang yang sakti ini sehingga tidak menimbulkan polemik,” tegasnya. 

Hingga saat ini, beliau masih kerap menari saat calon arang dan bahkan sampai malam hingga pagi.

“Biasanya sampai pukul 00.00 Wita sampai 04.00 Wita keliling jalan, bahkan tidak saja di Ubud sampai ke Mas. Orang yang mengejarnya semisal pecalang harus menggunakan motor. Makanya di luar akal sehat, karena yang nyaluk tapel ini adalah pemangku tua dan bisa berlari berpuluh kilometer,” ujarnya. 

Cok Ace secara pribadi pun takjub, dan melihat itu sungguh luar biasa.

“Kalau saya yang mundut ida, nyaluk topeng celuluk ini rasanya belum sanggup berlari sejauh itu,” jelasnya.

Cok Ace sendiri memilih mundut rangda, dan telah dilakoni sejak tahun tahun 1990-an.

Cok Ace awalnya memberanikan diri mundut rangda di Pura Batur Sari, yang merupakan pura kahyangan jagat atau desa.

“Itu rangda pertama yang saya pundut karena tidak ada yang berani mundutnya,” jelasnya. 

Memang background Cok Ace adalah penari topeng. Dan itu memberanikan dirinya mundut rangda, karena tidak ada yang berani.

“Saya juga diminta oleh pedanda di Padang Tegal untuk mundut saat itu. Saya pundut, dan antara sadar tidak sadar akhirnya aura magis merasuki dirinya. Ia konon berlari-lari ke perempatan, dan dengan pakaian serta tapel rangda yang sangat berat tidak menjadi beban sama sekali. 

“Sampai sekarang saya masih masolah, hanya karena pandemi ini saja saya berhenti sebentar,” katanya.

Kejadian mistis sering dialaminya, seperti dicari oleh sesuhunan rangda tersebut.

“Cukup sering dan terkadang penampakannya sangat real atau nyata. Saya memang senang ke pura. Ada banyak pura yang belum saya datangi, belum ada kesempatan ke sana,” jelasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved