Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Human Interest Story

Pasca Lepas Masa Jabatan, Made Gianyar Bakal Kembali Jadi Dosen

Masa jabatan Made Gianyar sebagai Bupati Bangli akan berakhir pada 17 Februari 2021 mendatang. Sebelum masa pensiun, pria asal Desa Bunutin, Kintamani

Tayang:
Tangkapan layar Youtube
Bupati Bangli, Made Gianyar 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI  – Masa jabatan Made Gianyar sebagai Bupati Bangli akan berakhir pada 17 Februari 2021 mendatang.

Sebelum masa pensiun, pria asal Desa Bunutin, Kintamani itu mengaku sudah memiliki berbagai rencana. Salah satunya mengelola warisan leluhur

“Dulu saya disekolahkan dari pertanian, jadi bupati juga karena orang tua jadi petani. Di akhir masa pensiun, saya sebenarnya mau kembali fokus mengelola pertanian,” ujar Made Gianyar.

Baca juga: Made Gianyar Tak Pernah Bercita-cita Jadi Bupati

Baca juga: Proyek Terminal Tipe A Mengwi Rampung, Penumpang Bisa Nikmati Fasilitas Seperti Bandara Ngurah Rai

Baca juga: Setelah 5 Hari Tim SAR Lakukan Pencarian, Nenek 90 Tahun yang Hilang di Tabanan Ditemukan Meninggal

Kendati demikian, rencana tersebut tidak bisa berjalan mulus. Sebab dekan di tempatnya mengajar, yakni di Fakultas Hukum Warmadewa, Prof. Dr. I Nyoman Putu Budiartha mendaftarkan ia menjadi mahasiswa S3 di fakultas hukum universitas tersebut. Dan saat ini Gianyar telah menjadi mahasiswa semsester 1.

“Akhirnya rencana awal saya sudah tidak 100 persen bisa jalan, karena rencananya saya balik ke kampus barang dua sampai tiga tahun, kalau diperbolehkan saya mau pensiun dini."

"Tetapi pak dekan, sudah saya didaftarkan S3. Sehingga nanti (pasca pensiun) saya menyelesaikan S3, mengajar (menjadi dosen S2), berikutnya juga mengelola pertanian. Paling tidak di managemennya. Walaupun pertanian ekonominya primer, tapi kalau dikelola dengan managemen modern mudah-mudahan hasilnya lebih baik,” imbuhnya."

Pandemi Covid-19 yang merebak sejak awal tahun 2020 memporak-porandakan sejumah sektor usaha, salah satunya bidang pariwisata. Banyak pengusaha hingga pejabat yang akhirnya kembali ke sektor pertanian.

Dalam hal ini, Gianyar menegaskan pertanian yang dilakoninya bukan semata-mata karena pandemi Virus Corona. Melainkan sudah dilakoni sejak 2,5 tahun lalu saat sang istri, Ni Luh Putu Erik Wiriani meninggal dunia.

Gianyar tidak memungkiri ada rasa kecewa kehilangan belahan hati.

Namun ia sadar jika kecewa berkepanjangan tidak akan menyelesaikan persoalan.

“Ada kehidupan masa depan yang harus saya tata.

Ada anak-anak, apalagi jadi bupati, ada masyarakat yang harus saya pikirkan (untuk) menggerakkan terus pemerintahan ini agar menjadi lebih baik,” ucapnya.

Gianyar percaya setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Pada hari ke-sembilan sang istri meninggal, ia mengaku sempat merenung tentang apa yang harus diperbuat. “Itulah yang melahirkan ide saya, lahan ini.

Saya kelola dengan lebih baik, saya mau bertani lebih focus. Sehingga kehidupan saya seperti ajaran agama Hindu, catur asrama itu bisa kita jalani dengan baik,” jelasnya.

Gianyar juga menilai ke depan tidak hanya sektor pariwisata yang penting, namun sektor pertanian jauh lebih penting. Sebab sektor pertanian merupakan ekonomi primer. Terlebih dengan pandemi seperti sekarang ini.

Pihaknya menegaskan bukan menampikkan pariwisata, tetapi pondasi pertanian itu harus menjadi pondasi utama yang harus digerakkan, diikuti pariwsiata.

“Sehingga saya berharap pak gubernur, berikutnya juga penentu-penentu kebijakan di Bali ini jangan tinggalkan pertanian untuk pariwisata. Tetapi pariwisata dan pertanian berjalan seiring seirama. Sehingga konsepnya karena pariwisata harus jalan, pertanian (juga) harus jalan, ya arahnya ke back to nature. Ecotourism, agrowisata, sehingga alamnya tetap asri. Disatu sisi ada tumbuhan, disisi lain ada beton. Mungkin kedepan lingkungan alam, penyakit akan bisa tereliminasi karena heterogenitas,” ungkapnya.

Sedangkan disinggung ketertarikan untuk kembali terjun ke dunia politik pasca lengser dari jabatan Bupati, Gianyar mengaku akan pensiun.

Namun ia tetap memberikan kontribusi salah satunya dengan memberikan proses edukasi politik kepada masyarakat.

“Ketika saya tidak menjadi politisi, tetapi saya menyarankan orang untuk berpolitik yang baik, beretika, sopan santun, mungkin masyarakat akan lebih percaya kepada saya. Daripada saya mengajarkan edukasi politik ketika saya masih menjadi politisi,” ujarnya.

Gianyar menilai saat ini banyak orang berbicara politik praktis namun pendidikan politik sangat kurang dilakukan.

Padahal KPU merupakan lembaga permanen. Oleh sebab itu dengan kembalinya ia ke dunia kampus, Gianyar berharap bisa bekerja sama dengan KPU untuk memberikan pendidikan politik.

“Sehingga nanti saya fakultas hukum, ada pengabdian kepada masyarakat, kan tidak hanya penyuluhan hukum saja. Tetapi bagaimana membangun kesadaran politik masyarakat, sehingga politik kedepan bisa lebih baik."

"Dan ketika saya menyampaikan seperti itu, saya tidak sebagai pelaku, mungkin masyarakat bisa memandang lebih objektif dan saya bisa berbicara lebih idealis. Karena dunia ini harus dasarnya idealisme dan dari idealisme itu diwujudkan menjadi realisme,” paparnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved