Wawancara Tokoh
Made Gianyar Tak Pernah Bercita-cita Jadi Bupati
Lahir di Desa Bunutin, Kintamani, Made Gianyar tak pernah sekalipun bercita-cita menjadi seorang bupati.
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Lahir di Desa Bunutin, Kintamani, Made Gianyar tak pernah sekalipun bercita-cita menjadi seorang bupati.
Namun takdir berkata lain. Pria 57 tahun itu akhirnya mengabdi untuk masyarakat Bangli selama belasan tahun.
Sebelum menjadi Bupati selama dua periode, Made Gianyar terlebih dahulu menjadi wakil Bupati Bangli mendampingi I Nengah Arnawa.
Dalam acara Bli Ojan Inspirasi Bali, Made Gianyar bercerita bahwa dulu Desa Bunutin merupakan Desa yang terpencil yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Badung disebelah barat, dan Kabupaten Gianyar di sebelah Selatan.
Baca juga: Proyek Terminal Tipe A Mengwi Rampung, Penumpang Bisa Nikmati Fasilitas Seperti Bandara Ngurah Rai
Baca juga: Tingkat Hunian Hotel di Kawasan The Nusa Dua Libur Nataru Mencapai di Atas 30 persen
Baca juga: Saksi Ungkap Detik-detik Kejadian Komang dan Ketut Tenggelam di Sungai Yeh Mekecit Jembrana
Pada masa kecilnya, Gianyar merupakan orang kedua yang tamat SMP.
Ia juga orang pertama yang menempuh pendidikan hingga tamat SMA di desa Bunutin kala itu.
“Belum ada orang sekolah dulu. Budaya pendidikan masih belum maju seperti sekarang,” ujarnya.
Gianyar menilai semangat belajar dirinya tidak terlepas dari kedua orang tuanya, yang bercita-cita memiliki anak terpelajar.
Segala kemampuan dicurahkan untuk membiayai pendidikan anaknya hingga lulus perguruan tinggi baik S1 maupun S2.
Baca juga: Warga Temukan Tulang Diduga Tulang Manusia di Hutan Lindung Kecamatan Pupuan Tabanan
Baca juga: Keributan Saat Malam Pergantian Tahun di Klungkung, Kadek G Ambil Celurit Kira Sepupunya Dikeroyok
Baca juga: Ratusan Warga Berkumpul di TKP Dua Remaja Tenggelam di Jembrana
“Berdasarkan aspirasi masyarakat saat itu, saya akhirnya dipaketkan sebagai wakil bupati mendampingi Pak Arnawa hingga lanjut menjadi bupati,” ungkapnya.
Mengutip kalimat filsuf Perancis, Rene Descrates: cogito ergo sum, dimana latar belakang seseorang tidak terlepas pisahkan dengan asal tempat tinggal serta pola pikir, kebiasan pola hidup, termasuk dengan kebijakan-kebijakan seseorang tersebut.
Hal inilah yang diterapkan Gianyar selama belasan tahun dipercaya masyarakat memimpin Bangli.
“Sekarang kedaulatan rakyat harus diutamakan, vox populi, vox dei dimana suara rakyat adalah suara tuhan."
"Dan karena saya berasal dari kampung, dari desa, akhirnya memang banyak kebijakan-kebijakan saya selama bupati berorientasi pada desa. Seperti program gebangdesigot (gerakan membangun desa dengan sistem gotong-royong)."
Baca juga: Terpengaruh Miras Saat Malam Pergantian Tahun Baru 2021, Warga Ini Terlibat Keributan di Klungkung
Baca juga: Selama Pandemi 2020, Forensik RSUP Sanglah Tangani 3.886 Jenazah
Baca juga: BREAKING NEWS: 2 Pemuda Tenggelam di Sungai Yeh Mekecit Jembrana, Hingga Kini Masih Pencarian
"Sehingga infrastruktur ke desa-desa, dulu tidak ada jalan hotmix ke desa, di zaman saya (jalanan) ke desa-desa (sudah) hotmix,” ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/bupati-bangli-made-gianyar-1.jpg)