Serba serbi
Kisah di Balik Hari Raya Tumpek Wayang di Bali
Bhatara Kala kemudian ingin memakan Hyang Kumara karena lahir Tumpek Wayang. Hyang Kumara terus berlari dari pengejaran Bhatara Kala
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
“Kemudian Bhatara Kala ingin mencari Dewa Siwa ke Siwaloka. Lalu diakuilah raksasa itu memang anaknya dan diberi nama Bhatara Kala,” jelas Jro mangku.
Bhatara Kala lahir tepat ketika Tumpek Wayang. Ia dianugerahi oleh Dewa Siwa, bisa memakan siapa saja yang lahir saat wuku atau Tumpek Wayang.
Tak dinyana, Bhatara Siwa kembali memiliki putra bernama Hyang Kumara.
Lahirnya pun sama dengan Bhatara Kala yakni ketika Tumpek Wayang.
Bhatara Kala kemudian ingin memakan Hyang Kumara karena lahir Tumpek Wayang.
Hyang Kumara terus berlari dari pengejaran Bhatara Kala, karena tidak ingin dilahap sang kakak.
Sampai akhirnya ia berhasil bersembunyi di sebuah tempat, ketika seorang dalang sedang mementaskan wayang.
Sang Hyang Kumara bersembunyi di dalam plawah alat musik gender agar bisa selamat.
Bhatara Kala datang, dan menanyakan kepada dalang tersebut apakah Hyang Kumara ke sana.
Sang dalang menolongnya dan mengaku tidak tahu.
Bhatara Kala yang kelelahan, akhirnya melahap atau menyantap sesaji yang ada di depan tempat dalang mementaskan wayang.
Ki dalang menasehati Bhatara Kala, bahwa sesajen itu tidak boleh dimakan karena merupakan persembahan kepada dewa.
Bhatara Kala pun merasa bersalah, dan ia berjanji anak yang lahir ketika Tumpek Wayang harus diruwat dengan tirta wayang sapuh leger agar bisa selamat.
Serta menetralisasi sifat buruk atau kala dari sang anak.
Bhatara Siwa yang tahu bahwa Bhatara Kala ingin memakan adiknya, mengatakan bahwa ia bisa memakan Hyang Kumara ketika ia besar nanti.