Serba serbi

Kisah di Balik Hari Raya Tumpek Wayang di Bali

Bhatara Kala kemudian ingin memakan Hyang Kumara karena lahir Tumpek Wayang. Hyang Kumara terus berlari dari pengejaran Bhatara Kala

Tribun Bali/Ayu Dessy Wulansari
Ilustrasi - Aneka wayang di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma 

Namun di sisi lain, Bhatara Siwa memastu Hyang Kumara agar tetap kecil sampai akhir hayatnya.

Sehingga tidak bisa dimakan oleh Bhatara Kala.

Dari kisah inilah, hingga sekarang dipercayai bahwa seseorang yang lahir saat wuku Wayang harus diruwat dengan banten sapuh leger.

“Kalau tidak diruwat dengan tirta sapuh leger dari pementasan wayang, secara rasa kurang baik dan anak ditakutkan akan melakukan hal-hal negatif."

"Sehubungan dengan perlu adanya penetralisir dengan cara seperti dimaksud,  juga memberikan upah kepada nyama papat atau catur sanak agar kita tetap dijaga, dilindungi dan diayomi secara niskala,” sebutnya.

Sebab kelahiran Tumpek Wayang, adalah kelahiran yang dianggap tenget. Jiwa anak yang lahir saat Tumpek Wayang, kata dia, keras karena pengaruh sifat-sifat negatif yaitu keraksasaan.

Mebayuh sapuh leger diyakini membantu menyelamatkan sang anak, agar hidupnya selamat, rahayu dan panjang umur. Hal ini harus dilandasi dengan keyakinan yang sangat mendalam,” tegas Jro mangku.

Lanjutnya, alangkah baiknya anak yang lahir saat Wuku Wayang atau tepat saat Tumpek Wayang tetap mengikuti pegangan sastra pada lontar Kala Pati Tattwa.

Sehingga menyelamatkan anak tersebut dari sifat-sifat buruk karena disebut kelahiran salah wetu. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved