Breaking News:

Berita Nasional

Bantu Penanganan Korban Gempa di Sulawesi Barat, Unair Kerahkan Rumah Sakit Terapung dan Tim Medis

Universitas Airlangga mengirimkan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) untuk membantu penanganan dampak gempa,

dok.Unair
Kapal RSTKA yang berisi 18 tim medis berangkat dari Surabaya, Minggu(17/1/2021), menuju daerah Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat, untuk membantu penanganan pasca gempa bumi dalam 2 hari secara berturut-turut pada Kamis dan Jumat (14/1/2021) lalu. 

TRIBUN-BALI.COM - Gempa bumi sebanyak dua kali dengan kekuatan cukup besar mengguncang daerah Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat selama dua hari berturut-turut pada Kamis dan Jumat 14-15 Januari 2021.

Berbagai kerusakan dan korban jiwa berjatuhan dalam bencana tersebut.

Untuk itu, Universitas Airlangga (Unair) mengirimkan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) untuk membantu penanganan dampak gempa, terutama terkait penambahan personel medis.

Sekretaris Yayasan Ksatria Medica Airlangga (YKMA/pengelola operasional RST), Dr Suwaspodo Henry Wibowo SpAnd MARS, mengatakan Tim AJU I yang langsung dikomando Direktur RSTKA dr Agus Hariyanto SpB mengirimkan kurang lebih 18 tim medis.

Baca juga: Pakar Epidemiologi Unair Sebut PSBB Jawa Bali Cuma Formalistik, Penerapannya Parsial dan Tak Merata

Mereka terdiri atas 2 apoteker, 2 dokter bedah, 2 dokter anestesi, 4 dokter umum, 4 perawat umum, 2 perawat anastesi, dan 2 perawat bedah operasi.

"Tim AJU 1 juga bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur  dan IDI Surabaya.

Mereka diminta hadir menggantikan fungsi rumah sakit di lokasi bencana yang sudah tidak bisa beroperasi," urai pria yang akrab disapa dokter Henry ini.

Ia mengungkapkan kapal RSTKA berangkat dari Surabaya Minggu (17/1/2021) dan masih menunggu meredanya pasang air laut.

Dibutuhkan waktu tiga hari untuk sampai ke Makassar.

“Melihat situasinya yang darurat, tim harus segera ke sana. Kita berkoordinasi dengan Tim Bencana Kemenkes.

Kapal kita diminta hadir di sana. Rumah sakit di sana banyak yang tidak beroperasi,” urai dr Henry.

Dengan kondisi lapangan yang belum diketahui, Tim AJU I akan menjadi pionir medis untuk membuka jalan ke lokasi.

Menurut dr Henry, tim juga bertugas melakukan survei lokasi bencana dan mengumpulkan kebutuhan apa yang kurang  di lapangan.

Selanjutnya, Tim AJU I berkoordinasi dengan Rumah Sakit Dr Soetomo dan Rumah Sakit Unair.

Baca juga: FK Unair Siapkan Para Dokter PPDS untuk Bantu Penanganan Covid-19 di Rumah Sakit Pemkot Surabaya

Halaman
12
Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved