Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi

Ini Waktu Sakral Menurut Tradisi Masyarakat Hindu Bali

“Tindakan masyarakat Hindu Bali dalam menghadapi peralihan waktu, adalah dengan mengadakan rangkaian upacara sebagai wujud syukur kepada waktu yang

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/Rizal Fanany
Ilustrasi bulan Purnama. Ini Waktu Sakral Menurut Tradisi Masyarakat Bali 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Menurut tradisi masyarakat Bali, waktu sakral itu atau tempus sacrum datang pada saat-saat masa peralihan.

Pada masa peralihan, dilihat dan dipandang sebagai saat-saat paling berbahaya atau paling rawan.

Hal ini dibahas dalam ‘Alih Aksara, Alih Bahasa, dan Kajian Lontar Sundarigama’ oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Koordinator tim, I Nyoman Suarka, menjelaskan dalam menghadapi waktu yang akan berakhir dan waktu yang akan datang.

Baca juga: Dharmagita Nyanyian Sakral Umat Hindu untuk Yadnya Hingga Hiburan

Masyarakat Hindu Bali telah mengetahui bagaimana cara menghadapinya.

“Tindakan masyarakat Hindu Bali dalam menghadapi peralihan waktu, adalah dengan mengadakan rangkaian upacara sebagai wujud syukur kepada waktu yang telah lampau.

Serta memohon perlindungan dan keselamatan untuk masa yang akan datang,” jelasnya kepada Tribun Bali, Senin 18 Januari 2021, di Denpasar.

Waktu sakral atau hari suci, yang dihitung menurut perhitungan terbit dan tenggelamnya bulan adalah saat Purnama dan Tilem.

“Purnama dan Tilem dipandang sebagai waktu sakral, karena merupakan waktu peralihan,” sebut guru besar FIB Unud ini.

Purnama, kata dia, adalah waktu terakhir pada paroh terang dan waktu awal pada paroh gelap.

“Karena itu, purnama dianggap sebagai waktu sakral,” katanya.

Ia menjelaskan, saat bulan purnama diyakini bahwa Bhatara Parameswara atau Sanghyang Purusangkara bersama saktinya.

Diiringi para dewa dan bidadari serta roh leluhur melakukan yoga.

Di sisi lain, pada setiap bulan purnama diyakini Dewa Bulan melakukan yoga.

“Karena itu umat diharapkan membuat persembahan sesuai kemampuan (widi widana sarwa pawitra sakasidan),” jelasnya.

Baca juga: WIKI BALI - Memahami Aksara Modre, Dikenal Sakral dan Magis di Bali

Guna dipersembahkan kepada para dewa, terutama kepada Dewi Bulan.

 Sesajen yang patut disembahkan saat bulan purnama, adalah penek kuning dengan lauk daging ayam putih siungan panggang.

Prayascita luih dan reresik, serta dilengkapi dengan segehan agung satu tanding. Upacara dilakukan di tempat suci, pemujaan milik keluarga (sanggah).

Ataupun tempat suci untuk umum seperti pura dan parhyangan.

Pada malam harinya, umat diharapkan melakukan yoga semadi.

“Diantara bulan purnama yang dianggap paling purna, adalah bulan purnama yang jatuh pada masa keempat yang disebut Purnama Kapat atau Purnama Karttika (sekitar September-Oktober),” jelasnya.

 Ada kemungkinan Purnama Kapat atau Purnama Kartika dikatakan sakral dan sekaligus romantis karena Purnama Kapat.

Merupakan waktu peralihan, yakni waktu berakhirnya musim kemarau dan awal musim penghujan.

“Bila kita membaca sastra kakawin, kita menyadari betapa pentingnya fungsi bulan pada suatu zaman ketika penerangan jarang terdapat,” imbuhnya.

Bagi seorang penyair kakawin, tidak ada satu bulan pun yang dapat menandingi masa kapat.

Itulah bulan keindahan, bulan yang paling disukai oleh para pendamba keindahan untuk bercengkrama di pantai dan pegunungan.

Baca juga: Mimpi Watin Ciptawan Terwujud, Angkat Tradisi Sakral Bali lewat Film Kajeng Kliwon

Seperti disebutkan di dalam Kakawin Sumanasantaka, dengan syair ‘Yan ring karttikamasa ramya masa ni nghulun ameng-ameng ing pasir wukir’.

“Konon pada bulan kapat pula, penyair melangkahkan kakinya menuju tempat-tempat indah membawa alat tulisnya. Dimana dewa keindahan mengilhaminya untuk menulis sebuah kakawin, seperti diungkapkan dalam Kakawin Bhomantaka,” sebutnya.

Dapat dipahami, bahwa bulan Purnama Kapat merupakan puncak segala keindahan sehingga dipilih oleh para dewa dan roh leluhur untuk melakukan yoga semadi.

Tindakan yoga semadi para dewa dan roh leluhur, yang bertujuan demi keselamatan dan kesejahteraan alam semesta raya.

Diharapkan dapat ditiru oleh manusia di muka bumi ini, khususnya umat Hindu Bali.

“Karena itu pula lontar Sundarigama menyarankan kepada seluruh umat Hindu Bali,” katanya.

Tilem juga diyakini sebagai waktu sakral, karena merupakan waktu peralihan yakni berakhirnya paroh gelap dan awal paroh terang.

Pada saat Tilem, diyakini Dewa Matahari yang beryoga.

 Menurut lontar Sundarigama, pada saat Tilem merupakan waktu untuk melebur segala bentuk noda, kotoran, kepapaan, penderitaan, dan bencana yang menimpa diri manusia.

“Dalam Kakawin Bharata-Yuddha diungkapkan bahwa malam gelap atau Tilem, berkaitan dengan malam penuh duka setelah pertempuran dahsyat,” jelasnya.

Kiranya berkaitan dengan peristiwa, yang terjadi pada malam gelap atau Tilem dalam Kakawin Bharatayuddha itu.

 Dapat dikatakan bahwa Tilem merupakan waktu sakral, dan sekaligus waktu rawan.

Karena itu, pada Tilem umat Hindu diharapkan melakukan persembahyangan di sanggah, di pura, atau di atas tempat tidur.

 Dengan mempersembahkan sesajen berupa sesayut widyadhari dan melakukan yoga pada malam hari.

Ada kemungkinan, sesayut widyadhari merupakan simbol widya atau ilmu pengetahuan dan keahlian.

“Karena itu, makna persembahyangan pada saat Tilem adalah untuk memohon pengetahuan dan keterampilan dalam segala pekerjaan,” ucapnya.

Disamping wujud peruwatan kepapaan, noda, kegelapan, dan segala penderitaan.

 Diantara Tilem yang diyakini paling sakral, adalah Tilem Kasanga.

Menurut lontar Sundarigama, pada saat Tilem Kasanga diyakini sebagai waktu bagi para dewa menyucikan diri di tengah samudera mengambil intisari air suci kehidupan abadi yang disebut amreta kamandalu. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved