Breaking News:

Berita Jembrana

Warga Desa Medewi Pekutatan Harapkan Buka Jalan Baru Di Areal Jembatan Putus

“Desa Medewi sekarang krisis air. Karena itu juga ada beberapa warga yang mengajukan untuk membuka akses jalan baru di samping Sungai Yeshsatang. Kala

Tribun Bali/I Made Ardhiangga
Jembatan yang putus karena terjangan air bah atau banjir bandang Jumat 15 Januari 2021 lalu. 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Dari pendataan terbaru ada sebanyak 17 KK terdampak di Banjar Loloan Desa Medewi Kecamatan Pekuatatan menjadi korban banjir bandang.

Atas hal ini, warga pun berharap ada pembukaan akses jalan baru, untuk menyambungkan jembatan yang kemarin putus.

Hal itu dikarenakan jembatan menjadi infrastruktur yang mendorong laju perekonomian warga, Dimana bertumpu pada pertanian.

Kepala Desa Medewi I Nengah Wirama mengatakan, akses jalan yang putus bertempat di samping Sungai Yehsatang, sebelumnya pihaknya sudah mengajukan proposal ditujukan ke Balai TN BBS Provinsi Bali terkait akses jalan dan subak.

Sebanyak 6 proposal yang diajukan selain perbaikan jalan juga untuk menyelamatkan subak.

Baca juga: Rumahnya di Pekutatan Jembrana Hanyut Diterjang Banjir Bandang, Misbah Sebut Kerugian Rp 250 juta

Baca juga: Bupati Terpilih Nengah Tamba Kunjungi Warga Terdampak Banjir Bandang di Pekutatan Jembrana

Baca juga: Misbah Tak Menyangka Rumahnya Hanyut, 12 Rumah Rusak Dihantam Banjir Bandang di Pekutatan Jembrana

Di desa Medewi sendiri ada enam subak yang sedang berproses yakni subak basah dan kering yang kini digabung menjadi satu.

Saat ini subak yang tidak efektif berjumlah 4 dan semua tidak efektif pasca banjir bandang ini.

Hal itu dikarenakan enam bantuan alat suplai air dari pansimas hilang disapu air.

“Desa Medewi sekarang krisis air. Karena itu juga ada beberapa warga yang mengajukan untuk membuka akses jalan baru di samping Sungai Yeshsatang. Kalau nanti ada kompensasi dari pemkab, kami akan meminta bantuan pinjaman alat berat untuk membuka jalan baru di samping jalan yang putus tersebut. Gunanya untuk memudahkan akses warga karena infrastruktur jembatan sangatlah penting,” ucapnya Selasa 19 Januari 2021.

Wirama mengaku, dana pak banjir itu juga berdampak pada bendungan. Padahal bendungan yang paling terbesar di tempatnya yakni bendungan Subak Tengah mengakses tiga dusun.

Dimana di bendungan banyak tersangkut kayu dan lebih parah lagi ada batu besar yang masuk ke DAM tersebut sehingga arus pembagian air menjadi lumpuh.

Nah hal inilah yang kemudian, pihaknya akan meminta bantuan TNI Polri dan BPBD untuk gotong royong membersihkan bendungan.

“Kami akan ajukan karena bendungan terbesar yang mengaliri tiga dusun. Sangat berdampak buruk atau kami mengalami krisis air juga karena faktor ini,” tegasnya

Wirama menyebut, bahwa sebelumnya terkait dengan akses jalan yang putus, pihaknya sudah empat kali mengajukan surat ke Balai BBS dari akses yang 20, 50, 70, dan terkahir 120 meter. Akan tetapi, tidak pernah ditanggapi sampai saat ini. Dan sekarang pihaknya akan mengajukan lagi akses jalan sepanjang 200 meter.

"Saat ini untuk sementara waktu air bersih disalurkan oleh Polres Jembrana dan BPBD. Kami utamakan memang warga yang mempunyai hajatan karena sangat memerlukan air bersih,” bebernya. 

Baca juga: Banjir Bandang di Pekutatan Hantam 12 Rumah Warga, Sembilan Sapi Mati dan Puluhan Ayam Hilang

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Noviana Windri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved