LAPAN Duga Suara Dentuman dan Cahaya di Buleleng Bali Berasal dari Benda Jatuh Antariksa
Menurut Astronom sekaligus Peneliti Madya LAPAN, ada kemungkinan bahwa kejadian itu merupakan benda jatuh antariksa
Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Irma Budiarti
Belakangan ini, tidak ada aktivitas hujan meteor, kecuali dengan intensitas amat kecil.
Namun, perlu diketahui bahwa pada tahun 2021 ini, sudah ada sekitar 40 ketampakan meteor besar (fireball) di berbagai belahan Bumi.
International Meteor Organization (IMO) menerima dan mencatat laporan ketampakan fireball dengan cukup baik.
Beberapa kejadian disertai dengan suara dentuman yang terdengar cukup jelas.
Minor Planet Center (MPC) yang dikelola oleh International Astronomical Union (IAU) tidak mengumumkan adanya papasan dekat asteroid dengan potensi bahaya.
Pada tanggal 24 Januari 2021, terdapat setidaknya 3 asteroid berdiameter <100 m yang melintas dengan jarak minimum beberapa kali lipat jarak Bumi-Bulan.
"Bila memang apa yang terjadi di Buleleng merupakan jatuhnya meteor berukuran besar, maka objek tersebut tidak berasosiasi dengan asteroid yang terdeteksi dan terkatalogkan sebelumnya," ujarnya menambahkan.
Pada 8 Oktober 2009, warga Bone mendengar ledakan disertai getaran kaca-kaca rumah mereka, warga juga melihat jejak asap di langit.
Dugaan LAPAN bahwa itu meteor besar akhirnya mendapat bukti dari peneliti NASA yang menggunakan data infrasound.
Data infrasound mengindikasikan adanya meteor jatuh yang diperkirakan berdiameter 10 meter.
Baca juga: Fakta Misteri Suara Dentuman di Buleleng Bali, Sensor BMKG Singaraja Catat Anomali Sinyal 20 Detik
Baca juga: Suara Dentuman Misterius di Bali Terjadi Saat Kajeng Kliwon, Ini Pandangan Jero Bayu Gendeng
Belakangan diketahui juga seismograf BMKG terdekat merekam getaran 1,9 magnitudo.
"Bila dibandingkan dengan kejadian di Bone, ada kemiripan, sehingga diduga ledakan di Buleleng juga disebabkan adanya meteor besar yang jatuh," jelasnya.
Meteor itu menimbulkan gelombang kejut yang terdengar sebagai ledakan, dan diduga meteor tersebut memiliki ukuran awal beberapa meter, lebih kecil daripada asteroid Bone.
Rhorom juga menambahkan bahwa Meteor yang telah mencapai permukaan Bumi tidak berpotensi bahaya.
Benda antariksa ini tidak mengandung unsur radioaktif yang membahayakan, mineral yang terkandung dalam meteor pun tidak berbahaya bagi lingkungan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-asteroid-1.jpg)