Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Soal Nasib Pengungsi Uighur, Oposisi Turki Tantang Presiden Erdogan

Kalau itu terjadi bakal menjadi bencana politik yang memalukan bagi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Tayang:
Editor: DionDBPutra
http://www.abc.net.au
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendapat tantangan dari partai oposisi untuk memberikan perhatian kepada pengungsi Uighur. 

TRIBUN-BALI.COM, ANKARA - Oposisi Turki menantang Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memberikan perhatian terhadap nasib puluhan ribu pengungsi Uighur di Turki yang kemungkinan menghadapi deportasi ke China.

Kalau itu terjadi bakal menjadi bencana politik yang memalukan bagi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang telah lama menganggap dirinya sebagai pembela hak-hak Muslim yang diakui secara global.

"Mereka mengatakan kepada kita sebagai pembela Muslim terbesar, tetapi mereka gagal mendengar tangisan saudara-saudari kita yang disiksa karena mengatakan mereka adalah Muslim Turki," kata Meral Aksener dari Partai Baik Turki yang beraliran kanan-tengah dalam pidatonya kepada para anggota parlemen yang mengecam anggota parlemen Partai AKP Erdogan yang berkuasa.

Tayangan pidato yang disiarkan televisi pemerintah Turki itu, dihentikan saat Aksener mengundang pengungsi Uighur, Nursiman Abdurasid, untuk berbicara.

Hubungan Turki dan Prancis Memanas, Erdogan Kecam Pernyataan Kontroversial Macron & Serukan Boikot

Tuding Berafiliasi dengan Erdogan,Prancis Larang Kelompok Sayap Kanan Turki Grey Wolfes Beraktivitas

Stasiun penyiaran pemerintah itu tidak memberikan penjelasan atas insiden itu tetapi kejadian itu menjadi viral di media sosial diberi tagar "AKPsilenceUigh."

Platform media sosial menyiarkan sisa pidato Abdurasid, yang berbicara mengenai bagaimana saudara dan orang tuanya ditempatkan di kamp-kamp penahanan China dan menyerukan dunia Muslim dan kemanusiaan untuk membantu komunitasnya.

Namun Erdogan, yang kerap mencela Barat karena penganiayaan terhadap Muslim dan mengutuk meningkatnya Islamofobia, menahan diri untuk tidak secara langsung mengecam perlakuan China terhadap minoritas Uighurnya.

Diaspora Uighur paling banyak di Turki sejak negara itu membuka pintunya bagi etnis minoritas Muslim yang melarikan diri dari penganiayaan politik di China.

Turki sekarang menampung komunitas diaspora Uighur terbesar di dunia.

Para ahli sebelumnya sudah memperingatkan mengenai hak-hak dari sekitar 50 ribu orang Uighur yang mendapat suaka di Turki, di mana mereka memiliki kesamaan bahasa, budaya dan agama warisan, terancam oleh perjanjian vaksin virus corona baru-baru ini antara Ankara dan Beijing.

Pada akhir Desember, para pendukung hak menyuarakan kekhawatiran atas kedatangan vaksin Covid-19 yang lama tertunda dari Sinovac yang berbasis di China, yang terjadi hanya beberapa hari setelah Beijing tiba-tiba meratifikasi kesepakatan ekstradisi 2017 dengan Ankara.

China Lakukan Genosida

Sebelumnya Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat ( AS) masa pemerintahan Donald Trump, Mike Pompeo menyebut China telah melakukan genosida terhadap etnik Uighur di Xinjiang.

Selain itu, kelompok hak asasi manusia percaya bahwa China telah menahan hingga satu juta orang dari etnik Uighur selama beberapa tahun terakhir.

Mereka ditahan di tempat yang didefinisikan China sebagai kamp pendidikan ulang sebagaimana dilansir dari BBC, Rabu 20 Januari 2021.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved