Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Peternak Babi di Bali Menjerit, Harga 1 Ekor Sampai Rp 1 Jutaan, Bibit Babi Makin Langka dan Mahal

Peternak Babi di Bali Menjerit, Harga 1 Ekor Sampai Rp 1 Jutaan, Bibit Babi Makin Langka dan Mahal

Tayang:
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Widyartha Suryawan
TRIBUN BALI/ I PUTU SUPARTIKA
Ilustrasi - Peternak Babi di Bali Menjerit, Harga 1 Ekor Sampai Rp 1 Jutaan, Bibit Babi Makin Langka dan Mahal 

Menurut seorang peternak babi di Tabanan, I Nyoman Ariadi, kondisi kekurangan bibit babi terjadi setelah virus ASF menyapu bersih peternakan di Bali.

Sejak saat itu, banyak peternak yang memilih vakum sementara karena takut merugi lebih banyak lagi.

"Intinya saat ini para peternak masih kesulitan mencari bibit babi untuk dikembangkan. Itu karena jumlah bibit tak sesuai dengan permintaan," kata Ariadi.

Saat ini sebenarnya banyak sekali masyarakat yang memang berprofesi sebagai peternak hendak kembali mencoba usahanya, terlebih menjelang perayaan Hari Raya Galungan.

Hanya saja, persediaan bibit masih jauh dibandingkan kebutuhan. Banyak faktor penyebabnya karena terserang virus ASF, kemudian bibit menjadi langka, dan terakhir adalah harga bibit yang mahal.

"Sementara bibit yang ada di wilayah Bangli dan Gianyar. Semoga sih mereka para peternak yang mulai mencoba tak terkena musibah seperti sebelumnya sehingga nantinya populasi babi mulai tumbuh lagi di Bali," harapnya.

Ariadi tak sepakat bila pemerintah mendatangkan bibit dari luar Bali. Sebab, di luar wilayah Bali seperti di Jawa Barat virus ASF justru sedang marak terjadi.

Jika mendatangkan bibit dari luar Bali dengan kondisi terpapar virus tersebut, praktis akan menular ke ternak yang sudah ada di Bali.

“Apalagi di Bali virus itu sementara diperkirakan masih ada karena saat ini ternak di Bali selalu saja ada yang mati dengan ciri-cirinya juga mendekati virus ASF," ungkapnya.

Pemulihan Setahun
Kabid Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian Karangasem, Made Ari Susanta, menyebut kurangnya stok bibit babi karena banyaknya induk babi mati terkena virus ASF.

Sekarang peternakan babi masih kondisi restocking, sehingga harga bibit babi per ekor mengalami peningkatan.

"Untuk peternak babi di Karangasem, rata-rata peternak mencari bibit utamanya dari peternak lokal. Petugas akan terus memantau memastikan kondisi ternak," ungkap Ari.

Kepala Dinas Pertanian Klungkung, Ida Bagus Juanida, mengungkapkan paling tidak dibutuhkan waktu lebih dari setahun untuk mengembalikan kondisi peternakan babi kembali normal.

"Tidak serta merta kondisi bisa normal. Setidaknya butuhkan waktu setahun untuk peternak recovery mengembalikan populasi babi. Peternak butuh waktu untuk penggemukan, atau membesarkan indukan untuk kembali berkembang biak," jelasnya.

Disebutkan, Pemerintah Provinsi Bali juga tidak bisa sembarangan dalam mendatangkan babi dari luar pulau.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved