Serba Serbi
Analisis I Dewa Gede Windhu, Masuknya Etnis Tionghoa ke Bali, Dari Pelinggih hingga Permainan Ceki
Analisis Pengamat Budaya Universitas Udayana I Dewa Gede Windhu Sancaya, Masuknya Etnis Tionghoa ke Bali, Dari Pelinggih Hingga Permainan Ceki
Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Mereka menguasai Bahasa Melayu dengan baik sehingga jadi perantara Belanda dengan orang pribumi di Bali maupun tempat-tempat lain.
Sehingga sampai sekarang mereka masih menguasai jalur perdagangan di Indonesia termasuk juga Bali.
Di sisi lain, pada zaman Belanda mereka juga tidak diizinkan di kota-kota sehingga banyak yang pindah ke desa.
Sehingga banyak ditemui etnis Tionghoa di kawasan Kintamani, Pupuan, dan Payangan.
Tahun 1965, banyak juga dari mereka yang kemudian lari ke China sehingga di China ada kampung Bali.
Jadi di Kampung Bali itu pelarian dari Bali, istilahnya mereka memang yang diekstradisi ke sana.
Komunitas Thionhoa di Denpasar banyak tersebar di Wangaya maupun Tampak Gangsul.
Di Wangaya ada kelenteng dan sekarang pun masih ada bekas-bekasnya.
Komunitasnya juga banyak sampai sekarang.
Ada satu karya sastra yang merupakan adaptasi dari China yang berjudul Sam Pek Eng Tay.
Geguritan ini diadaptasi oleh Ida Ketut Sari dari Geria Sanur, Denpasar tahun 1915.
Cerita Sam Pek Erg Tay di Bali dikenal dengan nama Geguritan Sampik.
Geguritan Sampik ini ditulis dalam bahasa dan aksara Bali pada tahun 1915, dan digubah dengan menggunakan tembang-tembang macapat.
Geguritan Sam Pek Eng Tay ini kemungkinan diadaptasi dari karya Boen Sing Hoo.
Pengaruh China juga banyak masuk ke dalam kehidupan dan kebudayaan Bali mulai dari ranah sakral hingga profan.