Serba Serbi

Analisis I Dewa Gede Windhu, Masuknya Etnis Tionghoa ke Bali, Dari Pelinggih hingga Permainan Ceki

Analisis Pengamat Budaya Universitas Udayana I Dewa Gede Windhu Sancaya, Masuknya Etnis Tionghoa ke Bali, Dari Pelinggih Hingga Permainan Ceki

Tribun Bali/Firizqi Irwan
Ilustrasi sembahyang - Analisis I Dewa Gede Windhu, Masuknya Etnis Tionghoa ke Bali, Dari Pelinggih hingga Permainan Ceki 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - MASUKNYA etnis China atau Tionghoa ke Bali secara garis besarnya dibagi ke dalam dua periode.

Pertama terjadi pada zaman Bali kuno dan yang kedua saat jaman penjajahan Belanda.

Keberadaan etnis Tionghoa pada masa kerajaan Bali Kuno bisa dikaitkan dengan adanya mitos Pura Dalem Balingkang di Kintamani, Bangli.

Memang kalau dikaitkan dengan mitos tersebut ada disebutkan Raja Jaya Pangus yang menikah dengan putri China bernama Kang Cing We.

LIPSUS IMLEK: Etnis Tionghoa di Kawasan Gajah Mada Denpasar, Toko Bhineka Djaja Jadi Bukti Sejarah

Sejarah Kata Imlek & Gong Xi Fa Cai untuk Tahun Baru China, dari Dialek Hokkian & Hanya di Indonesia

DPRD Kabupaten Klungkung Mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek 2572

Sejak zaman tersebut ada rentang yang sangat panjang tanpa adanya kemunculan etnis Tionghoa hingga zaman Belanda.

Beberapa sumber menyebutkan, kejadian tersebut terjadi ketika zaman Kerajaan Majapahit.

Ada pengaruh dari Sam Poo Kong yang terkenal di seluruh Indonesia, dan pernah berlayar ke Bali pada periode Majapahit.

Rombongan mereka datang dari Jawa yang kemudian datang ke Balingkang yang saat itu merupakan pusat Kerajaan Bali kuno.

Sampai sekarang, banyak penduduk Batur yang meyakini hal tersebut memang benar.

Apalagi bisa kita lihat bahwa banyak penduduk di Batur yang mirip dengan orang daerah China, wajah kekuningan atau agak kemerahan.

Itu berbeda dengan orang Bali pada umumnya.

Saat itu dikisahkan Jaya Pangus memiliki dua istri.

Satu orang merupakan warga Bali dan seorang lagi dari China.

Selanjutnya kisah ini dimanifestasikan dengan Barong Landung atau Jero Gede Jero Luh.

Periode selanjutnya, warga etnis Tionghoa datang ke Bali pada zaman Belanda.

Mereka datang dari Cina Selatan yakni Provinsi Guangdong.

Mereka menguasai Bahasa Melayu dengan baik sehingga jadi perantara Belanda dengan orang pribumi di Bali maupun tempat-tempat lain.

Sehingga sampai sekarang mereka masih menguasai jalur perdagangan di Indonesia termasuk juga Bali.

Di sisi lain, pada zaman Belanda mereka juga tidak diizinkan di kota-kota sehingga banyak yang pindah ke desa.

Sehingga banyak ditemui etnis Tionghoa di kawasan Kintamani, Pupuan, dan Payangan.

Tahun 1965, banyak juga dari mereka yang kemudian lari ke China sehingga di China ada kampung Bali.

Jadi di Kampung Bali itu pelarian dari Bali, istilahnya mereka memang yang diekstradisi ke sana.

Komunitas Thionhoa di Denpasar banyak tersebar di Wangaya maupun Tampak Gangsul.

Di Wangaya ada kelenteng dan sekarang pun masih ada bekas-bekasnya.

Komunitasnya juga banyak sampai sekarang.

Ada satu karya sastra yang merupakan adaptasi dari China yang berjudul Sam Pek Eng Tay.

Geguritan ini diadaptasi oleh Ida Ketut Sari dari Geria Sanur, Denpasar tahun 1915.

Cerita Sam Pek Erg Tay di Bali dikenal dengan nama Geguritan Sampik.

Geguritan Sampik ini ditulis dalam bahasa dan aksara Bali pada tahun 1915, dan digubah dengan menggunakan tembang-tembang macapat.

Geguritan Sam Pek Eng Tay ini kemungkinan diadaptasi dari karya Boen Sing Hoo.

Pengaruh China juga banyak masuk ke dalam kehidupan dan kebudayaan Bali mulai dari ranah sakral hingga profan.

Di beberapa pura ada pelinggih untuk pemujaan Dewi Kwan In, atau pemujaan Ratu Syahbandar.

Juga ada tari Baris China, Barong Landung.

Kemudian ada dikenal pis bolong China yang saat ini harganya sangat mahal, Patra China dalam seni arsitektur, hingga permainan ceki yang banyak diminati masyarakat Bali. (*)

*) Dewa Wndhu pernah meneliti tentang sastra Bali-China yang berjudul Sam Pek Eng Tay (Geguritan Sampik) dalam kesusastraan Bali: suntingan teks dan terjemahan disertai kajian struktur dan resepsi.

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved