Breaking News:

Serba Serbi

Arak dan Upacara Bhuta Yadnya Dalam Hindu Bali

apabila seseorang minum arak berlebihan, maka ia akan berlaku seperti raksasa atau bhuta kala," jelas ida rsi dari Gria Bhuwana Dharma Shanti

Tribun Bali/Rizal Fanany
I Kadek Dharma Apriana menunjukkan arak Bali di Warung Pan Tantri, Sanur, Denpasar, Selasa 23 Feburari 2021. Ia berharap Perpres 10/2021 tentang bidang usaha penanaman modal lebih berpihak pada petani. 

Oleh sebab arak bisa dipakai obat, apabila takarannya tepat dan tidak berlebihan saat meminumnya.

Oleh karena itu ada takaran khusus untuk arak yang disebut 'sloki' atau gelas kecil ukuran kira-kira satu per sepuluh (1/10) dari gelas teh.

"Sehingga ada hitungan yang mengatakan, jika orang minum arak akan bisa menyebabkan sebuah hitungan," kata ida. Hitungan eka 'sari' artinya jika minum satu sloki bisa menyebabkan hati gembira.

Kemudian dwi 'ngamertanin' yang artinya bila minum dua sloki bisa untuk obat. Tri 'raja busana' yang artinya tiga sloki, bisa mulai menimbulkan rasa sombong.

Catur 'kokila basa' artinya empat sloki bisa menyebabkan kita mulai ngoceh tak terkontrol seperti burung kutilang atau becica di pagi hari.

Panca 'wana konyer' yang artinya lima sloki bisa menyebabkan seperti kera digigit semut, loncat sana loncat sini.

Sad 'wanara rukem' yang artinya enam sloki bisa menyebabkan seperti kera tidur (tidur yang sukar dibangunkan).

"Kalau orang sudah mabuknya sangat berat, ia bisa tidur di sembarang tempat karena lupa akan dirinya. Jadi arak bisa membuat orang seperti bhuta kala, bukan karena disenangi bhuta kala," jelas ida.

Sedangkan bhatara sama sekali tidak suka. Jadi arak identik dengan Bhuta Yadnya, karena arak bisa membangkitkan/membangunkan bhuta, sehingga mudah di somya ( diinisiasi dari bhuta menjadi dewa).

Baca juga: Perpres Mikol Terbit, Petani Arak Karangasem Menjerit: Harga Jeblok, Sulit Bersaing dengan Arak Gula

Baca juga: Jokowi Teken Perpres, Bali Kini Sah untuk Produksi dan Kembangkan Mikol Lokal

Untuk itu, arak juga kerap dicipratkan saat umat menghaturkan banten segehan.

Halaman
1234
Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Noviana Windri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved