Breaking News:

Berita Karangasem

Perpres Mikol Terbit, Petani Arak Karangasem Menjerit: Harga Jeblok, Sulit Bersaing dengan Arak Gula

Perpres Mikol Terbit, Petani Arak Karangasem Menjerit: Harga Jeblok, Sulit Bersaing dengan Arak Gula

Tribun Bali/Nyoman Mahayasa
Ilustrasi minuman beraklohol arak Bali - Perpres Mikol Terbit, Petani Arak Karangasem Menjerit: Harga Jeblok, Sulit Bersaing dengan Arak Gula 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Kini minuman beralkohol (Mikol) di Bali sah untuk diproduksi dan dikembangkan. Hal itu menyusul terbitnya Perpres Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal.

Di tengah sambutan positif atas Perpres tersebut, puluhan petani arak tradisional di Telaga Tawang, Kecamatan Sidemen, Karangasem justru berhenti sementara manjat pohon kelapa dan mengiris bunga untuk bahan minumn arak tradisional.

Para petani arak berhenti sementara karena permintaan dan harga arak yang diproduksi secara tradisional jeblok.

Perbekel Telagatawang, I Komang Muja Arsana mengatakan, petani arak tradisional sementara berhenti lantaraan arak tradisional kalah bersaing dengan arak fermentasi dari gula yang harganya  lebih murah.

"Ada puluhan petani yang berhenti memanjat pohon kelapa. Petani mengaku rugi memanjat kelapa jika ujung - ujungnya hasil dari memanjat kelapa (arak) tidak laku terjual di pasaran. Kalau seandainya begini petani merugi. Makanya desa pusing dengn kondisi ini," ungkaap Muja Arsana, Selasa 23 Februari 2021.

Seorang petani arak warga Desa Tri Eka Bhuana sedang menjelaskan tahapan-tahapan dalam proses pembuatan arak Bali, Minggu (17/2/2019) sore.
Dok. Tribun Bali - Seorang petani arak warga Desa Tri Eka Bhuana sedang menjelaskan tahapan-tahapan dalam proses pembuatan arak Bali, Minggu (17/2/2019) sore. (Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara)

Peredaran arak fermentasi gula menurutnya telah merebak di Karangasem tahun 2020 lalu.

Akibatnya, hasil penjualan arak tradisional merosot drastis.

"Sekarang petani arak tradisional menjerit karena terjepit dengan arak gula yang difermentasi. Permintaan arak tradisional  merosot, hampir tak laku jual pasca pengusaha berbondong memproduksi arak fermentasi gula dan lainnya yang secara tak langsung menyaingi arak," tambah Komang Arsana.

Ditambahkan, prajuru di desa juga telah menerima keluhan dari petani arak berbahan tuak.

Menurutnya, turunnya penjualan arak tuak disebabkan dua faktor. Pertama, muncul pesaing baru dan menjamurnya arak gula.

Halaman
1234
Penulis: Saiful Rohim
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved