Corona di Bali

Penetapan Zona Kurang Selektif, Warga Bukian Payangan Gianyar Jadi Korban

Cap zona merah Covid-19 di Kabupaten Gianyar, rupaya kurang selektif. Hal tersebut terungkap dengan masuknya Desa Bukian, Kecamatan Payangan, Gianyar

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Perbekel Bukian, I Made Junarta - Penetapan Zona Kurang Selektif, Warga Bukian Payangan Gianyar Jadi Korban 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Cap zona merah Covid-19 di Kabupaten Gianyar, rupaya kurang selektif.

Hal tersebut terungkap dengan masuknya Desa Bukian, Kecamatan Payangan, Gianyar, Bali dalam zona merah atau daerah rawan penyebaran covid-19.

Padahal, sejak November 2020 hingga hari ini, Kamis 25 Februari 2021, jumlah warga yang terkonfirmasi covid-19 hanya satu orang.

Baca juga: Tunda Pembangunan, Desa Adat Saba Gianyar Alihkan Dana Rp100 Juta untuk Penanggulangan Covid-19

Baca juga: Pemprov Bali Dukung Pemkab Badung Gunakan Genose sebagai Alat Deteksi Covid-19

Baca juga: Jenazah Suspect Covid Diambil Paksa, Kadus: Tidak Ada Pemaksaan, RSUD Wangaya Bantu Pemulangan

Hal tersebut pun mendapat protes keras dari Perbekel Bukian, I Made Junarta.

Sebab penzona merahan yang dinilai tidak tepat itu, menyebabkan warganya menjadi korban.

Karena desanya masuk zona merah, warga yang berprofesi sebagai pedagang di luar desa menjadi dikucilkan, sepi pembeli.

Hal tersebut juga dialami oleh warganya tidak berprofesi sebagai pedagang. 

"Kasihan masyarakat saya, kalau jualan tidak ada yang beli. Saya sudah protes soal ini. Katanya status desa saya sebagai zona merah sudah diubah, tapi sampai saat ini saya belum diberikan kejelasannya," ujar Junarta.

Baca juga: Di Tengah Pandemi Covid-19, Dinas Pertanian dan Pangan Badung Rancang Program Penanaman Hidroponik

Baca juga: Di Tengah Pandemi Covid-19, Dinas Pertanian dan Pangan Badung Rancang Program Penanaman Hidroponik

Baca juga: Terkait Pemulangan Paksa Jenazah Suspect Covid-19, Ini Kata Kadus Wanasari Denpasar

Dia menegaskan, sejak November 2020 hingga sekarang, warga yang terkonfirmasi positif covid-19 hanya satu orang, dan saat ini tengah menjalani isolasi.

Desa Bukian ini terdiri dari 11 banjar dan delapan desa adat. Antara desa dinas dan desa adat, telah memiliki kesepakatan bersama dalam penanganan covid-19.

Bahkan di sini, pihaknya pun menyediakan kamar isolasi yang jumlahnya satu kamar tidur.

Lokasinya jauh dari perumahan warga.

"Namun sampai saat ini tidak pernah ada yang pakai, karena satu orang kena, sudah diisolasi di hotel oleh pemerintah," ujarnya.

Junarta menegaskan, meskipun jumlah kasus positif di desanya hanya satu orang.

Namun pencegahan dilakukan secara maksimal.

Bahkan sejumlah pembangunan yang awalnya hanya dirancang menggunakan dana desa dibatalkan untuk penanganan pandemi.

"Kami dapat dana desa sekitar Rp 1 miliar lebih, delapan persen kita pakai untuk penanganan pandemi, menunda sejumlah pembangunan yang sudah dirancang, seperti bedah rumah sebanyak tiga unit dan pembuatan taman desa," ujarnya. 

Dia menegaskan selama ini masyarakatnya taat protokol kesehatan.

"Buktinya kemarin kami lakukan sidak, yang terjaring satu orang tidak pakai masker, tapi itu warga dari desa tetangga. Warga kami tidak ada yang kena sidak karena taat prokes," tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved