Berita Bali

Kebijakan Pemakaian Endek Bali Tiap Selasa Sebagai Dukungan Terhadap Usaha/Industri Kecil Menengah

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mengeluarkan kebijakan penggunaan kain tenun endek setiap Selasa.

Dokumentasi Pemprov Bali
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ni Luh Putu Putri Suastini menghadiri Karya Kreatif Indonesia Tahun 2021 Seri-1 di The Anvaya Beach Resort, Kuta, Badung, Rabu 3 Maret 2021 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mengeluarkan kebijakan penggunaan kain tenun endek setiap Selasa.

Pemakaian kain tenun itu diperuntukkan bagi pimpinan instansi vertikal, perguruan tinggi, perangkat daerah, pimpinan BUMN dan BUMD, perusahaan swasta; serta organisasi dan lembaga kemasyarakatan se-Bali.

 Hal ini diatur dalam Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 04 tahun 2021 tentang penggunaan kain tenun endek Bali/kain tenun tradisional Bali.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ni Luh Putu Putri Suastini menilai, kebijkaan itu sebagai salah satu dukungan terhadap usaha dan industri mikro, kecil dan menengah di Bali.

Baca juga: Penjualan Kain Endek di Karangasem Bali Masih Landai

Hal itu juga sekaligus memajukan perekonomian melalui gerakan pelestarian warisan leluhur guna melestarikan kain tenun di daerah masing-masing.

"Jika bukan kita yang menggunakan kain tenun yang dihasilkan oleh daerah kita, maka siapa lagi.

Karena dengan menggunakan kain tenun produksi perajin lokal maka dengan sendirinya kita juga turut menjaga eksistensi perajin kita dari kepunahan," kata Putri Suastini pada kegiatan pembukaan Karya Kreatif Indonesia Tahun 2021 Seri-1 di The Anvaya Beach Resort, Kuta, Badung, Rabu 3 Maret 2021.

Putri Suastini menuturkan, salah satu contoh nyata yang dapat dilihat dalam pelestarian kain tradisional yakni di Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.

Di sana kain gringsing digunakan saat pelaksanaan upacara adat dan diatur ke dalam Pararem.

"Ketika pemakai kain dan konsumen kain tenun tidak hilang, maka produksi dan perajin kain tenun lokal juga tidak akan punah," ujar Putri Suastini

Karena itu, Putri Suastini berharap pelaksanaan Pameran 'Karya Kreatif Indonesia' yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia secara serentak pada 3 sampai 5 Maret ini merupakan momentum untuk melestarikan dan mengembangkan warisan leluhur berupa karya seni, seni rupa serta seni kerajinan yang terangkum ke dalam budaya adat.

"Bali itu harus kuat layaknya segitiga sama sisi, semua harus saling menopang.

Apabila ada satu yang melemah maka dua lainnya harus kuat sehingga Bali akan tetap bangkit dan berdiri tegak.

Apabila dulu sektor pariwisata bergeliat dengan datangnya wisatawan dari luar, maka untuk ke depan kita semua harus bersama menjaga sektor baik dari luar Bali ataupun yang dari dalam Bali," kata dia.

Baca juga: Sedana Arta Usulkan Endek Bali Bisa Masuk Dalam Ekstra Kurikuler di Sekolah

"Dengan begitu kita semua akan mampu menggawangi kain tenun tradisional milik daerah kita, sehingga kita semua sadar bahwa kita dan mereka memiliki kewajiban dan tugas untuk melestarikan dan mengembangkan produk seni yang merupakan warisan leluhur.

Karena perlu ada yang mengingatkan dan menguatkan agar UKM dan IKM menjadi tangguh sekaligus menjadi sumber daya yang mampu bersaing di dunia global, terlebih saat masa pandemi seperti sekarang," papar Putri Suastini. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved