Breaking News:

Tak Mudah Menjadi Sulinggih, Begini Pandangan Ida Rsi yang Juga Pensiunan Dosen UNHI

Tak Mudah Menjadi Sulinggih atau Nabe, Begini Pandangan Ida Rsi yang Juga Pensiunan Dosen UNHI

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti 

Ada pula pantangan masalah makan, misalnya tidak makan binatang berkaki empat atau dua, ikan tertentu, sayur tertentu. Makanan bekas, makanan cemer atau tidak sukla. Dan lain-lainnya.

Pantangan berperilaku, tidak marah, membunuh, memfitnah, menyakiti mahluk hidup, berjudi, minum alkohol, berzinah (selingkuh), bahkan berhubungan dengan istri sendiri pantang dihari yang terlarang, harus pada hari baik tertentu saja. 

Tidak boleh berdagang untuk mencari untung (adol atuku).

"Dan lain-lain banyak lagi pantangan-pantangannya," tegas Ida Rsi.

Ilustrasi orang melukat
Ilustrasi orang melukat (Tribun Bali/I Putu Supartika)

Seorang sulinggih memiliki kewajiban. Diantaranya, Arcanam, memuja kebesaran Tuhan, dengan setiap pagi nyurya sewana, dan lain sebagainya.

Adhyaya, selalu tekun mempelajari ilmu pengetahuan keagamaan seperti Weda, tattwa-tattwa, serta acara.

Adhyapaka, suka memberikan pengajaran tentang kerohanian, kesucian, keagamaan, kesusastraan serta bimbingan kerohanian tanpa pamrih.

Swadhyaya, rajin belajar sendiri, selalu mengulangi pelajaran yang diberikan oleh nabenya.

Dhyana, merenungkan Brahman (Tuhan) atau Ida Sang Hyang Widhi dan hakekat  yang dipujanya. Aturan-aturan ini harus ditaati dan dijalankan oleh para sulinggih. Agar tidak melakukan perbuatan yang cacat.

Baca juga: Ini Penjelasan Sulinggih Soal Perbedaan Nyegara Gunung dan Meajar-ajar, Serta Makna Ngenteg Linggih

Perilaku sulinggih atau pendeta yang dianggap cacat, seperti Wuku Panjer atau sulinggih yang mengejar setoran alias mengejar pendapatan atau dana.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved