Kudeta Militer Myanmar Ternyata Berkaitan Pula dengan Kerajaan Bisnis Raksasa

Para aktivis prodemokrasi mengatakan reformasi demokrasi hanya mungkin jika tentara kembali ke barak.

Editor: DionDBPutra
MYITKYINA NEWS JOURNAL via Sky News
Suster Ann Roza Nu Tawng, seorang biarawati di Myitkyina, Myanmar berlutut di hadapan sejumlah aparat yang juga ikut berlutut. Suster Ann Roza memohon kepada aparat Myanmar agar tak menembaki para pengunjuk rasa pada Senin 8 Maret 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, NAYPIYDAW- Kudeta militer Myanmar yang menggulingkan pemerintahan sipil 1 Februari 2021 tak semata soal kekuasaan politik pemerintahan.

Kudeta tersebut ada sangkut pautnya pula dengan kerajaan bisnis raksasa.

Aksi kudeta militer sebagian besar didanai anggaran nasional. Namun, secara diam-diam mereka mendapat pemasukan dari kepentingan bisnis yang tersebar di mana-mana.

Di Indoor Skydiving Centre, tempat wisata populer di Kota Yangon, misalnya, pengunjung dapat merasakan sensasi melompat dari pesawat dengan terowongan angin vertikal.

Akan tetapi, tak banyak orang menyadari itu adalah bagian dari kerajaan bisnis raksasa yang dijalankan militer, bisnis yang tak terpisahkan dari kehidupan nasional Myanmar.

Baca juga: Militer Myanmar Langgar Hukum Internasional, Duduki Lima Rumah Sakit dan Kampus

Baca juga: Militer Myanmar Percaya Takhayul, Tak Berani Sentuh Pakaian Dalam dan Rok Perempuan

Para pengamat berpendapat jejaring bisnis telah memungkinkan kudeta Myanmar terjadi, dan menjatuhkan akuntabilitas militer, seperti yang dilansir dari BBC Indonesia pada Selasa 9 Maret 2021.

Para pengusaha sipil berbicara tentang lingkungan mirip "Sisilia di bawah kekuasaan Mafia".

Para aktivis prodemokrasi mengatakan reformasi demokrasi hanya mungkin jika tentara kembali ke barak. Tidak lagi berada di panggung utama politik.

Dua konglomerat mendanai militer

Menurut laporan, militer Myanmar, Tatmadaw, mulai terlibat dalam urusan bisnis setelah kudeta sosialis Ne Win pada tahun 1962.

Selama bertahun-tahun, batalion militer diharuskan untuk berdikari dan didorong untuk mengembangkan modal dalam usaha lokal untuk membiayai operasi mereka.

Meskipun praktik ini telah dihentikan secara bertahap, dua konglomerasi dijalankan militer didirikan pada 1990-an ketika pemerintah memulai privatisasi perusahaan-perusahaan industri milik negara.

Kedua organisasi, Myanmar Economic Corporation (MEC) dan Myanmar Economic Holdings Limited (MEL), sejak itu menjadi sumber pendapatan yang penting bagi Tatmadaw, dengan saham di mana-mana mulai dari bank dan tambang hingga tembakau dan pariwisata.

MEHL pun mengelola dana pensiun militer. Beberapa pemimpin militer dan keluarga mereka mempunyai saham di banyak perusahaan, dan pernah mendapat sanksi di masa lalu.

Baca juga: AS Berikan Sanksi Bagi Militer Myanmar : Akses Kementerian, Bisnis Militer dari Perdagangan Diblokir

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved